WFH 36 – Donor Darah ke-20

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Donor darah
Tempat : PMI Pusat Jakarta
Harga : Gratis (bahkan dikasih snack)
Waktu : ~20 menit

Tidak pernah menyangka juga akan berhasil mencapai 20 kali donor darah. Butuh waktu 697 hari dari donor darah pertama sampai donor darah ke-10. Butuh waktu 712 hari dari donor darah ke sebelas sampai donor darah ke-20, rata-rata setiap 79 hari sekali.

Donor darah kali ini pas puasa dan dalam masa pandemi, sepi. Kebutuhan darah masih banyak, buktinya ketika datang tadi darah sudah ada keluarga pasien yang mengantri darah.

Donor darah kali ini agak beda, di lantai lima. Biasanya kalau donor darah di PMI Kramat di lantai dasar, kecuali pas waktu renovasi tempo dulu. Karpet tulisan hari di lift juga diganti dengan tata cara berdiri di lift. Tidak ada antrian, baik saat pendaftaran, saat pengambilan HB, saat periksa dokter, maupun saat pengambilan darah.

Perbedaan lainnya adalah penggunaan mesin. Aku baru kali ini donor darah menggunakan mesin ini (kayaknya sih, kalau udah pernah berarti ya lupa). Ada penanda waktu dan berapa mililiter darah yang sudah ada di kantong darah. Waktu yang tertera saat aku selesai 350ml sekitar 5 menit, pendonor di sebelahku selesai setelah 7 menitan. Mesin ini ditujukan untuk monitoring petugas kesehatan, jadi kalau dari sisi pendonor tidak bisa melihat langsung ke layar. Kalau mau lihat ya harus foto dulu.

Baru kali ini pake mesin, ada volume per menit juga lho
Donor darah ke-20

Bingkisan donor darah kali ini ada bonusnya, sebuah masker kain dari PMI.

Bingkisan donor darah, ada maskernya

Mari meluangkan waktu sebentar untuk donor darah. Protokol pengambilan darah di PMI sudah dibuat seaman mungkin untuk pendonor, petugas kesehatan, dan penerima darah.

Mari memberi, mari berbagi.

Selamat donor darah!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 35 – Menambah Buku di Goodreads

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Meminta admin untuk menambah buku
Platform : Website
Tautan : https://www.goodreads.com/
Harga : Gratis
Waktu : ~10 menit

Goodreads adalah tempat untuk para pembaca buku bisa menuliskan review atau sekadar sebagai tempat mencatat buku yang ingin, sedang, atau sudah dibaca. Ini mirip seperti IMDB, tapi buat buku. Aku bergabung di Goodreads sejak Februari 2014 dan sudah mencatatkan 222 buku yang kubaca.

Saya membaca sebuah cerita pendek karangan Nasjah Djamin yang berjudul Affandi Pelukis. Selesai membaca, saya langsung ingin update di Goodreads. Namun ternyata buku ini belum ada di daftar.

Affandi Pelukis karya Nasjah Djamin

Demi bisa menuliskan di Goodreads, aku mencari tahu cara menambahkan buku ke Goodreads. Ternyata cukup mudah, tinggal masuk ke page Goodreads Librarian Groups.

Goodreads Librarian Groups

Setelah bergabung, pilih bagian Adding New Books lalu pilih new topic. Kamu akan masuk ke page baru untuk membuat topik baru.

Request penambahan buku

Habis ini mungkin bikin reviewnya dulu sambil menunggu buku ini ada di Goodreads. Untuk update penambahan buku Affandi Pelukis di Goodreads, bisa dipantau di link ini.

Selamat membaca!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 27 – Foto Bercerita (1)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Mengenang peristiwa dari sebuah foto
Waktu : Secukupnya

Kerja gak harus dari kantor

Baru sadar ada burung lagi terbang di kejauhan. Masih kelihatan meski jauh, sepertinya burung tersebut cukup besar.

Bagi yang bisa menebak dari background, foto ini diambil di puncak Gunung Batur, Bali, 5 tahun yang lalu, pada 14 Mei 2015.

Saya ke Bali bersama rombongan besar, namun saya dan seorang teman memutuskan untuk extend. Kami menyewa sebuah motor dan bermotor dari Bali Selatan sampai ke kawasan Danau Batur. Hanya berdua saja, membawa semua perbekalan karena kami tidak bisa menitipkan barang.

Berbekal google maps, kami sampai di Parking lot – Mt Batur treking. Kami membayar biaya untuk naik, namun karena mode hemat kami tidak menggunakan guide. Kami membawa semua perbekalan karena ada laptop di dalam tas. Jadilah kami mulai berjalan kaki dari situ ke arah Gunung Batur dari jam 10.30. Matahari sudah cukup tinggi dan barang bawaan kami berat.

Sekitar jam 1 kami sudah di puncak dan bertemu dengan rombongan suami istri dengan guidenya. Guide tersebut membuka sebuah warung yang ada di puncak tersebut. Dia lalu memasak roti isi pisang bakar dan telur rebus. Kami bertanya apakah dia menjual makanan juga, karena kami lapar.

Guide tersebut memasakkan kami juga roti isi selai pisang bakar plus telur rebus. Kata dia sih seikhlasnya. Aku lupa kami memberikan 50ribu atau 100ribu untuk 2 roti, 2 telur rebus, dan 2 minum. Kalau tidak salah, sudah lama juga. Namun yang aku ingat adalah rasa rotinya itu enak parah. Selai pisang bakar yang masih hangat dipadu dengan roti tawar. Mungkin karena lapar, tapi waktu itu rasanya enak banget.

Laptop yang kami bawa itu cukup berat, kalau disuruh ngasih angka asal ya 3kg lah. Sudah capek-capek bawa laptop, alangkah baiknya kalau digunakan juga untuk pose.

Foto dengan laptop itu diambil 14 Mei 2015 jam 14.18 di puncak Gunung Batur bersama roti tawar isi selai pisang bakar dan telur rebus, biar kerjanya lebih semangat.

Selamat makan!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 34 – Faroe Island Online Tour

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Online Tour
Platform : Website
Tujuan : Faroe Island
Tautan : https://www.remote-tourism.com/
Harga : Gratis
Waktu : 1 jam

Faroe Island, kepulauan di antara Islandia dan Skotlandia dengan penduduk tidak sampai 50 ribu orang. Faroe Island sendiri adalah bagian dari negara Denmark. Dengan bentang alam yang indah, Faroe Island merupakan salah satu tempat tujuan berlibur pagi banyak orang.

Faroe Island juga terkena dampak Covid-19 sehingga sektor pariwisata menjadi sepi. Untuk tetap memberikan kesempatan orang-orang di seluruh dunia untuk “berkunjung” ke Faroe Island, dinas pariwasatanya mempunyai ide untuk melakukan tur online. Tur ini berlangsung selama 1 jam dan “pengunjung” dari seluruh dunia dapat berinteraksi langsung dengan pemandu. Tur dilakukan seminggu sekali dengan setiap tur selama 1 jam. Selama tur ada 60 orang yang bisa mengatur arah pemandu, maju, mundur, kanan, kiri, lari, dan lompat. Tur ini dilakukan setiap Kamis jam 00.00 WIB.

Halaman count down

Minggu ini tur mengunjungi Listasavn Føroya atau National Gallery of the Faroe Islands. Ketika aku bergabung, antrian untuk menjadi controller sudah penuh sehingga aku hanya tidak mendapat kesempatan untuk mencoba.

Antrian penuh

Galeri ini berisi kumpulan karya seniman Faroe Island. Ada 2 bagian galeri ini, untuk karya seni yang permanen dan yang tidak permanen. Penjelasan pemandu cukup jelas namun keinginan controller berbeda-beda. Ketika pemandu sedang menjelaskan, ada controller yang malah minta lari-lari atau lompat-lompat, sehingga penjelasan menjadi terputus. Memang lebih baik mengunjungi langsung sehingga tempo bisa diatur menurut keinginan diri sendiri.

Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil dari tur ini.

Ada 3 hal yang paling kuanggap menarik sepanjang tur ini, namun hanya sempat menangkap 2 saja. Dua gambar di bawah ini dan satu lagi adalah lukisan dengan Eminem sebagai modelny.

Kakek buyut dari pemandu
The Colony

Kalau tidak mengantuk, mungkin aku akan ikut tur minggu depan. Semoga minggu depan keliling di ruang terbuka, bukit, hutan, atau pantai.

Ada yang mau bikin juga di Indonesia?

Selamat menikmati!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 33- Intro to ML: Image Processing

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Course online
Platform : Qwiklabs
Topik : Intro to ML: Image Processing
Tautan : https://www.qwiklabs.com/quests/85
Harga : Gratis
Waktu : 5h5m (atau 2h5m) (atau 30m)
Progres : 3/12 (target 12 dari total 22)
Pendahuluan : https://gugelberg.com/wfh-24-juaragcp/

Aku mengambil course ini karena ada 1 course yang sama dengan course di quest Intro to ML Language Processing dan 1 course di Google Developer Essentials. Lumayan menghemat 3 jam, jadi cukup butuh 2h5m saja. Memang untuk menyelesaikan GCP ini dengan cepat butuh taktik yang jitu, harus memilih quest dan course dengan tepat. Course di Google Developer Essentials yang beririsan dengan course ini merupakan lab optional, jadi kalau salah memilih ya tidak mendapatkan percepatan.

Dua course juga tanpa score, sehingga bisa dibiarkan saja dan nanti juga dianggap lulus. Tapi coursenya sendiri cukup menyenangkan untuk diselesaikan. Jadi kalau mau benar-benar ngebut, di quest ini bisa cuma 30 menit dengan syarat 2 video yang lain sudah diselesaikan di quest berikutnya.

Lab yang ada di quest ini:

  • AI Platform: Qwik Start
  • APIs Explorer: Qwik Start
  • Classify Images of Clouds in the Cloud with AutoML Vision
  • Detect Labels, Faces, and Landmarks in Images with the Cloud Vision API
  • Extract, Analyze, and Translate Text from Images with the Cloud ML APIs

Tools dan API yang digunakan di quest ini adalah:

  • Cloud Vision API
  • Cloud AutoML API
  • AutoML UI
  • Vision API
  • Translation API
  • Nature Language API

Seperti course pengantar pada umumnya, masih basic. Hanya ada 1 video yang perlu ditonton, namun course ini sudah cukup jelas untuk menjadi pengantar tentang bagaimana ML bekerja dalam sistem dan bagaimana penggunaannya. Seru, terutama kalau upload gambar sendiri atau gambar yang tidak seharusnya dikelompokkan.

Classify Images of Clouds in the Cloud with AutoML Vision

Foto anjing ini dimasukkan ke kategori awan cirrus

Detect Labels, Faces, and Landmarks in Images with the Cloud Vision API

Ini mungkin lab paling menyenangkan di quest kali ini. Bisa mencoba beberapa gambar untuk dites dengan label detection (mencari apa yang ada di gambar), web detection (mencari gambar yang mirip di internet), face detection (mencari gambar muka), dan landmark detection (mendeteksi tempat). Aku mencoba beberapa gambar landmark yang aku ambil sendiri. Ada 4 foto yang aku ambil dan 3 hasilnya null dan 1 hasilnya agak jauh. Foto diambil di daerah Jakarta, Indonesia namun dikiranya di Melbourne, Australia. Tingkat kepercayaan cuma 0.4 sih, jadi bisa dimaafkan. Aku menggunakan Reqbin untuk membantu mempermudah mengganti-ganti API.

Extract, Analyze, and Translate Text from Images with the Cloud ML APIs

Di course ini kita diajari untuk menggunakan ML untuk mencari kata di foto, menerjemahkan kata tersebut, lalu menggunakan Natural Language untuk pengolahan kata lebih dalam. Aku mencoba dengan fotoku sendiri dan berhasil. Bahkan ML untuk mencari text bisa menemukan tulisan “WESTIN” juga.

Selamat bermain!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 32 – Hening Serentak

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Meditasi
Platform : IG Story
Pemandu : Adjie Santosoputro
Tautan : https://www.instagram.com/adjiesantosoputro/
Harga : Gratis
Waktu : ~1 jam

Sudah sejak lama aku ingin mencoba meditasi. Mendengar meditasi yang kepikiran selalu duduk diam dengan damai, terbayang juga suasana di kuil. Kebanyakan baca komik atau nonton film-film lawas. Tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku tidak pernah melakukan meditasi sebelumnya.

Asal mula tahu Mas Adjie ini karena sering ada yang share tentang postnya di IG. Lalu sekitar sebulan yang lalu Mas Adjie mengadakan sebuah acara ngobrol-ngobrol di IG Live. Mumpung lagi senggang dan merasa bosan tanpa kegiatan di kamar semasa WFH, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung. Tanpa ekspektasi, join-join aja.

Sebelum masuk ke menu meditasi, Mas Adjie biasanya ngobrol dulu dengan pengunjung IG Live-nya. Sesi ngobrol-ngobrol ini kemudian dikenal dengan nama Wawiwu. Di sesi ini biasanya ada pertanyaan-pertanyaan yang dibahas. Dari pertanyaan tentang WFH, lockdown, ketenangan pikiran, kaos yang dikenakan Mas Adjie maupun tatanan rambut Mas Adjie. Sesi ini dimulai sekitar jam 20.30 dan berakhir jam 21.00.

Sesi Hening Serentak dimulai sekitar jam 21.00 dan . Sesi hening serentak ini mengalami beberapa kali tranformasi format.

  • Awalnya meditasi hening dan IG Live menampilkan wajah Mas Adjie yang sedang bermeditasi. Hening namun masih terang.
  • Tranformasi berikutnya adalah saat meditasi dimulai Mas Adjie menutup kameranya dengan sarung bantal sehingga IG Live cuma tampak layar hitam saja. Hening dan gelap.
  • Banyak pengunjung baru bergabung yang bingung dengan layar hitam dan keheningan, sehingga mulailah muncul pin comment “Hening Serentak, layar digelapkan…”. Hening, gelap, dengan keterangan.
  • Mulai ada alunan alat musik yang mengiringi Hening Serentak. Musiknya tentu saja yang pelan dan menenangkan. Suara menenangkan, gelap, dengan keterangan.
  • Format terakhir yang muncul adalah Mas Adjie memandu dalam proses meditasi. Ada alunan musik plus suara Mas Adjie, sepanjang 30 menit, dengan IG Live tetap gelap.

Dari semua format di atas, yang menjadi favorit adalah yang terakhir. Dengan panduan, bagi pemula fokus untuk meditasi lebih mudah dilakukan. Namun ada juga yang lebih nyaman Hening Serentak tanpa suara, atau bahkan tanpa alat musik. Hening Serentak, meditasi di waktu yang sama dan ruang yang berbeda.

Meditasi itu sendiri, dari yang saya dapatkan dan saya ingat, cukup mudah sebenarnya. Boleh duduk atau berbaring, tapi kalau berbaring nanti ketiduran. Boleh duduk di kursi atau duduk di lantai. Matikan lampu kalau mau. Setelah itu, tutup mata dan bernapas. Ulangi selama 30 menit. Voila.

Pada meditasi, pemandu biasanya memberikan arahan untuk fokus pada napas. Selama meditasi, pikiran akan mengembara ke masa lalu, masa depan, dan negeri khayalan. Setiap kali pikiran melayang, kembali fokus pada napas. Tarik napas, hembuskan, tarik napas, hembuskan. Bila muncul perasaan-perasaan seperti marah, sedih, kecewa, takut, dan lainnya, terima perasaan tersebut dan amati. Teri jarak dan bedakan antara kita dengan pikiran tersebut. Lalu, kembali lagi ke napas.

Pertama kali aku meditasi, aku mengantuk padahal baru sebentar meditasi. Kala meditasi berikutnya, aku mengantuk namun setelah jangka waktu yang lebih lama. Setelah beberapa kali akhirnya aku tidak mengantuk lagi. Awal-awal juga pikiran mengembara ke masa lalu atau masa depan, bolak-balik. Akhir-akhir lebih baik dalam menyadari pikiran, meski tetap saja monkey mind berlompatan.

Ikut meditasi sangat membantu mengurangi kegelisahaanku, terutama saat awal-awal di kosan terus. Biasanya bisa lari-lari gak jelas ke penjuru kota, ini mau keluar kosan aja ragu-ragu. Kecemasan yang kumiliki mungkin berbeda dengan orang lain, namun diri ini juga perlu ketenangan pikiran. Karena pikiran juga perlu liburan.

If you can’t go outside, go inside

Ditulis berdasarkan memori jadi mungkin ada kesalahan dalam timeline. Baru sebulan ikut-ikutan meditasi, jadi mungkin ada salah kata atau info, untuk lebih jelasnya bisa mampir ke IG atau Twitter Mas Adjie.

Selamat bermeditasi!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 31 – Google Developer Essentials

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Course online
Platform : Qwiklabs
Topik : Google Developer Essentials
Tautan : https://www.qwiklabs.com/quests/86
Harga : Gratis
Waktu : 3h45m – 6h15m
Progres : 2/12 (target 12 dari total 22)
Pendahuluan : https://gugelberg.com/wfh-24-juaragcp/

Sengaja mengambil course ini karena berdasarkan informasi terpercaya course ini cukup singkat. Demi tas gratis ilmu, saya akhirnya memutuskan ikut course ini. Kebetulan ada beberapa lab yang pernah kulakukan, sehingga total hanya perlu 3h5m saja untuk mendapatkan badge ini.

Course kali ini agak unik karena ada pilihan course. Total course yang harus diselesaikan ada 5 dengan 3 mandatory dan 4 optional.

  • Weather Data in BigQuery
  • Classify Images of Clouds in the Cloud with AutoML Vision atau Entity and Sentiment Analysis with the Natural Language API
  • Google Assistant: Build a Restaurant Locator with the Places API
  • App Engine: Qwik Start – Java atau App Engine: Qwik Start – Python
  • Autoscaling an Instance Group with Custom Cloud Monitoring Metrics

Karena ada pilihan itu, waktu menyelesaikan course ini berkisar antara 3h45m atau 5h15m, atau kalau mau semua course diambil ya 6h15m. Cocok kalau mau mencari course yang cepat.

Course ini merupakan pengantar untuk menunjukkan kemampuan Google Cloud Ecosystem. Di quest ini kita bisa belajar cara untuk develop dan scale up tanpa perlu memikirkan infrastruktur, biarlah GCP yang mengurus. Quest ini juga menggunakan cukup banyak API, lumayan seru sih. Cocok buat yang suka main-main.

Tools dan API yang digunakan di quest ini adalah:

  • BigQuery
  • Cloud AutoML API
  • AutoML UI
  • Nature Language API
  • Places API
  • Google Actions Console
  • DialogFlow
  • Maps JavaScript API
  • Geocoding API
  • Google App Engine Admin API
  • Autoscalling

Quest ini cukup menarik, setidaknya ada 3 lab yang aku rekomendasikan.

Classify Images of Clouds in the Cloud with AutoML Vision

Lab tentang menggunakan AutoML untuk mempelajari klasifikasi awan. Ada 3 kategori awan yang digunakan yaitu cirrus, cumulus, dan cumulonimbus. Setelah ML mempelajari selama beberapa menit (agak lama), kita bisa mengunggah foto awan untuk diklasifikasikan di antara 3 tipe awan tersebut. Lumayan seru buat main-main.

Google Assistant: Build a Restaurant Locator with the Places API

Ini mungkin lab yang paling banyak toolsnya. Menggunakan 3 API (Places API, JavaScript API, dan Geocoding API), DialogFlow dan Google Actions Console. Di lab ini kita membuat sebuah tools yang bisa membantu orang untuk mencari tempat makan dengan menggunakan Google Assistant. Dengan menentukan tempat asal kita, jarak maksimal yang ingin kita tempuh, dan tipe makanan yang ingin kita makan, kita bisa mendapatkan gambar restoran yang sesuai dengan kriteria. Keren kan.

Mencari makan menggunakan API

Autoscaling an Instance Group with Custom Cloud Monitoring Metrics

Sebenarnya ini mungkin biasa saja, tapi baru kali ini main pake autoscaling. Secara garis besar tidak ada yang istimewa sih karena dari hit tidak terlalu tampak juga scale up dan scale down-nya. Namun lab ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang betapa mudahnya untuk scaling itu.

Selamat bermain!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 30 – Menulis

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Menulis
Harga : Gratis
Waktu : ~20 jam (30 hari)

Awalnya dari tulisan WFH 0 cuma pengen nulis seminggu sekali, tapi ternyata cukup menyenangkan menuangkan pikiran dan kegaitan dalam tulisan. Menjadi sebuah rutinitas menjalani hari, jadi bisa mengurangi waktu membuka medsos. Meski begitu, masih ada ruang untuk lebih mengurangi membuka medsos.

Dari semua tulisan sepanjang 30 hari, yang paling sering dibaca adalah Gartic.io, Data Visualization (Kaggle), resensi buku Sapiens, dan Machine Learning for Business Professionals (Coursera). Dua tulisan saya share ke grup untuk dibaca rekan-rekan yang berkaitan dan dua tulisan tentang course online.

Aku paling menikmati menulis tentang buku Sapiens, buku Feynman, audiobook Winnie the Pooh, dan ketika mengamati orang-orang di jalan. Mungkin karena aku perlu mengolah hal yang aku terima dan menceritakan mengapa hal itu menarik buatku, jadi aku menggali lebih dalam.

Total jumlah pengunjung 30 tulisan ini (WFH 0 sampai WFH 29) adalah ~600 atau rata-rata 20 kunjungan per tulisan. Angka yang memuaskan karena masih ada yang mau baca. Ada 2 orang yang menghubungiku secara langsung karena mereka terpengaruh oleh tulisanku.

Entah bagian mana yang menginspirasi
Ada yang terjebak juga demi tas gratis

Cukup lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menulis. Satu tulisan singkat butuh 30 menit. Kalau tulisan panjang seperti review buku, bisa 2-3 jam karena perlu memilih juga apa yang mau ditulis.

PSBB masih berlangsung dan sepertinya akan menghabiskan lebaran di perantauan, mungkin ada baiknya aku melanjutkan tulisan-tulisan ini.

Terima kasih kepada semua orang yang sudi mampir ke blog saya dan membaca rancauan saya.

Selamat menulis dan selamat membaca!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 29 – “Surely You’re Joking, Mr Feynman”

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Membaca Buku
Judul : Surely You’re Joking, Mr Feynman
Platform : Google Play Books
Halaman : 350
Topik : Biografi
Harga : IDR 204,297
Waktu : ~10 jam
Rating : 10/10

Richard Phillips Feynman adalah seorang fisikawan dengan pencapaian yang cukup mentereng. Kalau lihat halaman wikipedianya, perlu scroll lah. Beberapa hal yang cukup penting adalah bisa main drum, bisa melukis, bisa mengajar, bisa bahasa Portugis, bisa bahasa Jepang, dan bisa membuka brankas terkunci. Oh ya, dia juga membantu membuat bom atom dan dia juga menerima hadiah Nobel Fisika di tahun 1965.

Buku ini merupakan autobiografi Feynman dibantu oleh Ralph Leighton. Isi buku ini berdasarkan rekaman audio percakapan mereka. Kalau jaman sekarang ini podcast yang dibukukan.

Aku pertama kali membaca buku ini di LPMP pada tahun 2006 saat belajar tentang astronomi. Baru membaca beberapa chapter, aku langsung suka sekali dengan buku ini. Sayangnya ini buku perpustakaan dan waktu 2 minggu (total 3 minggu tapi 1 minggu pindah tempat menginap) tidak cukup untuk menyelesaikan buku ini. Baru beberapa hari yang lalu aku teringat buku ini dan langsung membaca lagi. Chapter contoh habis dalam waktu singkat, langsung memutuskan untuk membeli buku ini. Sebuah keputusan yang tepat, buku ini sangat menyenangkan. Ringan, lucu, dan menggambarkan kepribadian Feynman. Yang namanya orang, ada yang suka dan ada yang tidak suka.

Feynman kecil suka ngoprek, sudah bisa memperbaiki radio dan bahkan sampai dibayar. Ada beberapa inovasi yang dia buat namun ada saja kendalanya. Dari ada bos yang tidak setuju sampai karena berbahaya.

I learned there that innovation is a very difficult thing in the real world.

Chapter: String Beans

Feynman selain suka bereksperimen, dia juga usil. Kalau jaman sekarang mungkin namanya nge-prank. Dia juga suka ngetes pengetahuan teman/orang lain, mungkin bagi beberapa orang ini bisa dianggap tidak sopan dan sombong. Terkadang ketika ingin membuktikan sesuatu, dia perlu bereksperimen. Feynman suka berdiskusi dan mencari pengetahuan dari disiplin ilmu lain seperti filosofi, psikologi, dan biologi. Dia juga sempat bereksperimen tentang mimpi.

I got interested. Now I had to answer this question: How does the stream of consciousness end, when you go to sleep?

Chapter: Always Trying to Escape

Salah satu chapter hidupnya yang cukup menarik adalah dia pernah bekerja menjadi Chief Research Chemist. Pindah disiplin ilmu baru, kimia. Hasilnya bahkan tidak mengecewakan, bukan cuma karena dia jago, tapi juga karena dia tahu bagaimana cara bereksperimen dengan baik. Menurutku quote paling mencengangkan ada di chapter ini, bisa dibaca di bawah untuk quotenya.

something I remembered from a college chemistry course

Chapter: The Chief Research Chemist of the Metaplast Corporation

Bahkan orang seperti Feynman juga bisa grogi ketika memberikan seminar. Mungkin juga karena yang diundang untuk hadir ke seminarnya adalah Henry Norris Russel, Johnny Von Neumann, Wolfgang Pauli, dan Albert Einstein.

Feynman bergabung dalam Manhattan Project dengan laboratorium di Los Alamos. Di sini selain berhasil mengembangkan bom atom, dia juga mengembangkan skill membuka brankas. Kemampuan ngoprek dan matematika plus iseng, dia berhasil membuka banyak brankas. Setelah melihat percobaan bom atom sukses, dia merasa bahwa daya rusak bom itu sangat besar sehingga dia agak mempertanyakan untuk apa membangun sesuatu yang bisa dihancurkan dengan mudah.

Why are they making new things? It’s so useless.

But, unfortunately, it’s been useless for almost forty years now, hasn’t it? So I’ve been wrong about it being useless making bridge and I’m glad those other people had the sense to go ahead.

Chapter: Los Alamos from Below

Feynman juga terkenal karena kuliahnya. Dari quora aku pernah membaca bahwa kalau ada nobel untuk mengajar, dia akan menang. Feynman sendiri juga senang mengajar. Dia bahkan punya julukan The Great Explainer. Jadi pengen mencoba salah satu kuliahnya.

So I find that teaching and the students keep life going, and I would never accept any position in which somebody has invented a happy situation for me where I don’t have to teach. Never.

Chapter: The Dignified Professor

You know, what they think of you is so fantastic, it’s impossible to live up to it. You have no responsibility to live up to it!

Chapter: The Dignified Professor

Feynman merupakan penghitung yang cukup cepat, dengan sedikit angka-angka yang dia ingat dia bisa membuat perkiraan yang tepat dengan cepat. Feynman juga sempat belajar bahasa Portugis dan Jepang dengan cukup serius, pertemuan langsung dengan guru. Dia juga sempat belajar alat musik frigideira dan drum sampai bisa dibilang cukup sukses untuk ukuran amatis.

“Feynman’s Portuguese,” which I knew couldn’t be the same as real Portuguese, because I could understand what I was saying, while I couldn’t understand what the people in the street were saying.

Chapter: O Americano, Outra Vez!

Salah satu chapter paling berkesan adalah ketika dia mengajar di Brazil. Kritikan cukup keras dia tulis di buku ini tentang proses pendidikan di sana. Rasanya masih cukup relevan saat aku masih di bangku sekolahan. Untuk quote ini cukup banyak, jadi aku satukan saja.

After a lot of investigation, I finally figured out that the students had memorized everything, but they didn’t know what anything meant.

So, you see, they could pass the examinations, and “learn” all this stuff, and not know anything at all, except what they had memorized.

One other thing I could never get them to do was to ask questions. Finally, a student explained it to me: “If I ask you a question during the lecture, afterwards everybody will be telling me, “What are you wasting our time for in the class? We’re trying to learn something. And you’re stopping him by asking a question.”

The main purpose of my talk is to demonstrate to you that no science is being taught in Brazil!

I must be wrong. There were two students in my class who did very well, and one of the physicist I know was educated entirely in Brazil. Thus, it must be possible for some people to work their way through the system, bad as it is.

Chapter: O Americano, Outra Vez!

Feynman sempat belajar melukis. Cukup sukses karena lukisannya dibeli orang dan dia pernah mengadakan pameran tunggal. Hal ini terjadi karena dia dan seorang pelukis bertukar peran untuk menjadi guru dan murid. Feynman mengajari sains, dan Feynman diajari melukis.

Dari buku ini, Feynman “pamer” tentang hidden talent dia, dari bermain alat musik, bahasa, melukis, dan membuka brankas. Namun aku melihatnya berbeda, bayangkan dalam 60 tahun lebih hidupnya, dia punya beberapa hobi. Dia orang yang cukup serius dalam mempelajari hobinya. Seolah-olah hanya karena bakat dia sukses, padahal dia juga bekerja keras untuk bisa menguasai hal-hal tersebut. Kerja keras itu bukan bakat.

I got a kick out of succeeding at something I wasn’t supposed to be able to do.

Chapter: O Americano, Outra Vez!

Masih banyak quote lainnya yang sebenanrya ingin aku bagikan. Untuk mengakhiri tulisan ini, aku akan memberikan satu quote terakhir. Quote ini memberikan sebuah kesan mendalam dalam membaca buku ini, tentang bagaimanakah seorang Richard Feynman. Dia orang yang penuh semangat dalam melakukan sesuatu.

Selamat berbahagia! Dan bagikanlah!

And then-still smiling-he talked to us about physics, his diagrams and equations helping us to share his understanding. It was no secret joke that brought the smmile and the sparkle in his eye, it was physics. The joy of physics! The joy was contagious.

Introduction by Albert R. Hibbs
Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 28 – Mengamati

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Mengamati
Harga : Gratis
Waktu : ~60 menit

Sejak lockdown ini aku jarang sekali keluar. Seminggu bisa hanya sekali, jadi kaki yang biasanya diajakin lari jadi jarang jalan-jalan. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku memutuskan kalau ke supermarket jalan kaki aja. Jaraknya ~2 km, jadi bolak-balik 4 km.

Setelah lama terkurung di dalam kamar, setiap perjalanan keluar selalu berkesan. Hari ini saja ada beberapa hal yang cukup bisa kuingat.

Beberapa saat setelah keluar kosan, aku melihat ada seorang wanita mengetuk pintu sopir sebuah taksi. Awalnya aku berpikir, aneh juga mau naik taksi kok lewat pintu sopir. Ternyata mbak-mbak ini ingin membagikan bungkusan kepada sopir taksi. Di belakang taksi tersebut ada mobil putih. Dari mobil itu keluar wanita (kayaknya ibuknya) yang membawa bungkusan untuk diberikan kepada satu sopir taksi yang sedang tidur.

Belum lagi 100 meter berjalan, tiba-tiba ada suara keras “brak”. Ternyata ada mbak-mbak boncengan yang helmnya jatuh. Ada mas-mas di pinggir jalan lalu menghentikan lalu lintas dan membantu mengambil helm yang jatuh di tengah jalan tersebut.

Beberapa ratus meter kemudian ada bau sedap menghampiri. Di depan ternyata ada warung yang sedang membakar sesuatu. Baunya enak, aku memutuskan nanti akan membeli makan di warung kepiting tersebut.

Setelah sampai di tempat tujuan dan berbelanja, aku langsung berjalan lagi ke kosan. Di perjalanan aku melihat ada orang yang lagi lari. Sedikit iri dan tiba-tiba jadi pengen lari juga, terselip rasa kagum karena susah juga lari pake masker. Saat berpapasan, ternyata masker yang digunakan tidak menutupi lubang hidung, pas sedikit di bawah lubang hidung. Hmmm.

Ketika berjalan, ada seorang bapak-bapak yang menyapa saya “Assalamualaikum Dek, halo Dek”. Aku lempeng berjalan. Aku merasa ini bapak-bapak yang sama yang menyapa aku di ruas jalan ini pada jalan yang sama beberapa hari yang lalu. Salah satu kebiasaann (buruk) yang aku lakukan adalah mengabaikan sapaan orang asing di pinggir jalan. Ada ide bagaimana seharusnya?

Sampai di tempat jual kepiting, aku bertanya pada penjualnya.

“Mas, di sini jual apa aja ya?”

“Kepiting saja.”

“Owh, kepiting saja ya.” (sedikit kecewa)

“Tapi kepitingnya lagi habis.”

“Oh yaudah makasih.”

Aku berjalan lagi. Baru beberapa langkah aku memutar badan. Ini masih sore, toko ini buka sore dan sekarang bulan puasa jadi harusnya ini baru buka. Di depan toko alat bakar, alat goreng, dan beberapa pekerja. Aku kembali dan bertanya lagi.

“Mas, lalu ini jual apa ya?”

“Kepiting, ini lagi habis. Maksudnya lagi nungguin stok dateng.”

“Oh, makasih.” (baru paham)

Melanjutkan perjalanan, sebelum sampai kosan sempat sengaja melewati tempat penjual mendoan biasa mangkal. Penjual mendoan lagi libur, terpaksa langsung balik kosan.

Satu perjalanan singkat yang biasanya tidak kuperhatikan secara detail. Sibuk dengan HP atau sambil mendengarkan sesuatu. Bosan dengan itu, kadang mengamati kejadian sekitar bisa cukup asyik.

Selamat mengamati!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter