Ngidam

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Saya dan beberapa teman sedang naik Gunung Gede. Menuju Surya Kencana, kami mengisi waktu dengan sesekali mengobrol.

B : Eh, istri maneh dulu ngidam yang aneh-aneh gak?

J : Enggak, cuman mintanya spesifik aja. Harus dari warung tertentu.

B : Kayak nasi uduk Surya Kencana ya gitu ya?

L : Wah, istri gak boleh ampe tahu ada nasi uduk Surya Kencana atau nasi pecel Mbok Yem. Susah belinya.

Perjuangan yang dibutuhkan untuk mendapatkan makanan tersebut cukup berat, harus naik gunung dulu.

Nasi uduk Surya Kencana ada di dekat puncak Gunung Gede dan nasi pecel Mbok Yem ada di dekat puncak Gunung Lawu.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Soto

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Saya mengajak beberapa teman yang sedang berkunjung untuk makan di soto paling enak di Solo, Soto Gading.

I : Eh, nama tempat ini apa ya?

Belum sempat menjawab, teman saya sudah menemukan jawabannya.

I : Oh, Soto Berseri.

L : Hah?

I : Itu tulisannya Soto Berseri.

Aku melihat arah yang dia tunjuk dan menemukan sebuah tulisan.

Soto Berseri

Soto paling enak di Kota Solo, Soto Berseri.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Tidur

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Aku dan beberapa teman sedang mendengarkan podcast horor. Potongan ceritanya kurang lebih seperti ini.

A, tokoh utama, sedang berada di kosan. B, teman sekosan A, mengirimkan pesan singkat.

B : A, masih bangun gak?
A : Masih, kenapa?
B : Aku mau balik ke kosan sebentar lagi, tolong bukain pintu dong.
A : Ok

A mengisi waktu luang membuka Instagram. Tiga puluh menit kemudian B pun datang. A membukakan pintu dan mereka pun berbasa-basi sebentar. Pertanyaan-pertanyaan biasa seperti habis dari mana, kenapa pulang malam banget dan kenapa belum tidur.

Aku yang mendengar podcast itu ingin membantu menjawab pertanyaan basa-basi tersebut. Bayangin B bertanya dengan serius ya.

B : Kok belum tidur?
A : A***R, nungguin M***H N***!

Gak penting sih, tapi sempet bikin kesel karena aku mendengarkan podcast sambil membayangkan jadi A. Udah disuruh nungguin untuk bukain pintu trus ditanyain kenapa belum tidur itu agak bikin emosi.

Kalau bayangin A dan B itu temen akrab dan B tanya buat bercanda sih mungkin responku bakal beda. Latar belakang hubungan antar tokoh gak terlalu dijelaskan, jadi bayanginnya ya temen gak akrab aja. Kalau temen akrab mungkin ada beberapa pilihan respon, beberapa kandidat.

B : Kok belum tidur?
A : Lagi jadwal ronda.

B : Kok belum tidur?
A : Lagi berburu vampir.

B : Kok belum tidur?
A : Lagi jaga lilin, C lagi ngepet.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Papan Informasi

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

November tahun lalu aku pergi ke akuarium dalam mall di daerah Jakarta Barat. Untuk harga yang cukup mahal, akuarium itu sepadan. Hewannya beraneka rupa dan tempatnya cukup luas. Papan informasi tentang hewan di setiap kandang pun bertebaran.

Aku kalo lagi iseng suka membaca papan informasi. Kebetulan lagi iseng, aku membaca satu papan informasi.

Pertama bahasa Inggrisnya. Kok aneh.

Coba baca bahasa Indonesianya. Kok tetep aneh.

Papan informasi yang sukar dipahami

Did you know coral reefs as can a clean water sea?

Tahukah kamu kalau terumbu karang sebagai pembersih air laut?

Informasi masih tersampaikan sih, tapi bikin kesel aja.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kura-kura dan Kelinci Tanding Ulang

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Seluruh penghuni hutan sudah mendengar berita tentang lomba lari antara Kura-kura dan Kelinci. Tidak ada yang menyangka bahwa Kura-kura ang lambat bisa menang lomba lari melawan kelinci. Tidak ada, kecuali Kura-kura dan Tupai. Hasil perlombaan membuat kelinci marah dan sangat malu. Kelinci diejek oleh semua hewan.

Bosan diejek, Kelinci ingin membuktikan bahwa kekalahan dia sebelumnya hanya karena lengah. Selama beberapa hari, Kelinci berkeliling hutan mencari Kura-kura untuk meminta tanding ulang. Semua tempat dia datangi dan semua hewan dia tanyai. Semua hewan memberikan ejekan dan jawaban tidak tahu. Tidak ada yang tahu keberadaan Kura-kura.

Kura-kura sedang bersembunyi. Dia tahu bahwa Kelinci akan meminta tanding ulang. Kura-kura sedang memikirkan taktik baru untuk memperdaya kelinci. Bantuan dari Tupai, sahabatnya, membuat dia bisa memenangkan lomba sebelumnya. Kura-kura tahu bahwa Kelinci tidak akan tertipu dengan cara yang sama untuk kedua kalinya.

Berhari-hari dia sembunyi sampai sebuah ide terlintas di kepala Kura-kura. Kali ini dia akan meminta bantuan Kancil, sahabat yang cerdik. Kura-kura berdiskusi dengan Kancil dan membahas rencana mereka. Mereka akan memanfaatkan kesombongan dan keserakahan Kelinci.

Beberapa hari kemudian, Kelinci bertemu dengan Kura-kura.

“Ayo kita tanding ulang! Aku tidak akan kalah kali ini!” seru Kelinci.
“Aku tidak mau. Aku sudah menang kemarin dan aku akan menang lagi kalau kita tanding ulang.”
“Tidak akan! Kemarin aku lengah. Kebetulan saja Tupai sedang membawa banyak makanan. Aku ketiduran karena kebanyakan makan. Kali ini aku tidak akan berhenti untuk makan.”
“Ah, kamu pasti akan kalah lagi, lalu minta tanding ulang lagi.”
“Tidak akan! Aku tidak akan kalah dan kalaupun tiba-tiba kamu bisa menang, aku tidak akan minta tanding ulang.”
“Baiklah, kita bertanding minggu depan di tempat yang sama, jam yang sama. Setuju?”
“Setuju.”

Berita tentang tanding ulang langsung tersebar ke seluruh penjuru hutan. Semua hewan menunggu dengan tidak sabar. Kelinci meyakinkan semua hewan bahwa dia tidak akan kalah lagi. Kura-kura lebih memilih diam dan menjalankan rutinitas seperti biasa.

Satu hari sebelum perlombaan, Kancil sengaja berjalan-jalan ke tempat Kelinci biasa makan. Setelah berdiri dekat Kelinci, Kancil berusaha mengambil perhatian Kelinci.

“Ah, makanan di sini gak enak! Aku mau makan di padang rumput rahasia aja!” teriak Kancil.
“Padang rumput rahasia?” tanya Kelinci.
“Sebenarnya ini rahasia sih. Ada padang rumput dengan rumput yang tebal dan pohon-pohon yang sedang berbuah. Letaknya di dekat gunung sana.”
“Apakah makanannya benar-benar enak?”
“Tidak bisa dibandingkan dengan makanan di sini. Tempat rahasia, hanya aku yang tahu.”
“Ajak aku ke sana!”
“Boleh saja, tapi tempatnya sangat jauh. Aku tidak yakin kamu sanggup ke sana.”
“Aku cepat dan kuat! Mari kita berangkat ke sana!”
“Baiklah kalau kamu mau.” Kancil mengiyakan permintaan Kelinci.

Kancil membawa Kelinci berjalan jauh ke arah gunung. Kancil sengaja mengambil jalan memutar ke padang tersebut. Setelah berjam-jam berjalan, mereka sampai ke padang rumput “rahasia” tersebut. Sebenarnya tidak ada perbedaan jauh antara padang rumput ini dengan padang rumput tempat Kelinci biasa makan. Namun rasa lapar karena perjalanan jauh membuat Kelinci merasa makanan di padang rahasia terasa lebih enak. Mereka makan sampai puas, sampai malam menjemput.

Kancil kembali mengambil jalan memutar untuk sampai kembali ke sarang mereka. Jalan yang jauh dan gelap, membuat perjalanan pulang mereka lebih lama daripada saat mereka berangkat. Kelinci sampai di sarangnya ketika sinar matahari muncul di ufuk barat.

Kelinci baru akan mulai beristirahat ketika suara hewan-hewan mulai ramai di luar sarangnya. Lomba lari dilaksanakan sebentar lagi dan kelinci masih terlalu lelah dan kurang tidur.

Kelinci tidak bisa mundur, semua warga hutan sudah berkumpul. Kura-kura sudah siap di garis start. Kelinci melompat perlahan ke garis start. Setiap langkahnya berat, dia ingin beristirahat.

Lomba lari pun dimulai. Kura-kura melangkah perlahan dengan pasti. Selangkah demi selangkah. Kelinci melompat dengan susah payah. Dari awal perlombaan kura-kura sudah berada di depan Kelinci. Sekuat tenaga Kelinci berusaha mengejar, tapi sia-sia.

Kura-kura menang lagi. Kelinci tidak menyelesaikan lomba dan langsung masuk ke sarangnya. Kemenangan kedua Kura-kura membuat Kelinci makin diejek. Kura-kura merasa bahagia tidak lagi diganggu oleh Kelinci. Sampai kelinci menantang tanding ulang ke-3 kalinya, tapi itu cerita untuk lain waktu.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Bukan Kampanye

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Hari ini, ada sebuah panggung di daerah CFD Jakarta yang aku lewati. Di atas panggung tersebut berdiri beberapa orang yang memegang pengeras suara. Aku bisa mendengar suara mereka dari kejauhan. Aku harus melalui panggung itu untuk mencapai tempat yang ingin kutuju, jadi aku bisa mendengar hal-hal dari panggung tersebut cukup lama.

Pembawa acara di atas panggung bertanya pada penonton yang berdiri di bawah.

Pembawa acara : (Memberikan sebuah pertanyaan dengan nama salah satu capres sebagai jawabannya)
Penonton : (Menyebut nama capres sambil membentuk simbol jari yang berkorelasi dengan nomor pasangan capres tersebut)
Pembawa acara : Ini bukan kampanye lho ya. (pembawa acara mengulangi pertanyaannya)
Penonton : (Menjawab sambil membentuk simbol dengan jarinya)
Pembawa acara : YYY dari ZZZ akan menunjuk penonton sebagai pemenangnya.

ZZZ adalah sebuah organisasi yang mendukung salah satu capres. Aku dan temanku merasa itu kampanye. Meskipun tidak pernah ada kalimat langsung untuk mendukung capres tersebut dan tidak ada atribut, pertanyaan tersebut agak menggangguku yang sedang ingin jalan-jalan di CFD. Aku bukan anggota KPU jadi gak tahu sih batasan kampanye, tapi nilai capres tersebut di bukuku berkurang. Mungkin juga aku yang terlalu sensitif karena terlalu sering terpapar berita tentang pilpres.

Menurutmu, apakah itu kampanye?

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Let’s Encrypt Berhenti Menggunakan TLS-SNI-01

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Jarang ada email penting di akun email pribadi, jadi ya jarang juga buka emailnya. Isinya kebanyakan hanya iklan, bukti transaksi, atau aktivitas sosial. Agak telat beberapa hari baru baca email dari noreply@letsencrypt.org. Kirain spam seperti biasa, ternyata ada aksi yang perlu kulakukan.

Email dari Let’s Encrypt

Ada celah keamanan yang ditemukan oleh orang jago terkait ACME TLS-SNI-01 sehingga Let’s Encrypt memutuskan untuk berhenti menggunakannya. Awal tahun ini merupakan terakhir kali Let’s Encrypt menyokong TLS-SNI-01. Pengguna yang menggunakan TLS-SNI-01 diminta untuk melakukan aksi. Sebenarnya agak sulit bagiku memahami celah keamanannya, salah satu alasannya juga karena tidak terlalu tertarik sih. Kalau mau baca, bisa klik tautan di bawah ini.

https://www.zdnet.com/article/lets-encrypt-disables-tls-sni-01-validation/

Email aku abaikan sampai akhir pekan supaya ada waktu luang untuk mengerjakan instruksi dari Let’s Encrypt. Persiapan aku gak paham harus ngapain dan butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan masalah yang aku juga belum paham itu.

Ternyata langkahnya cukup mudah apabila menggunakan certbot. Langkah lengkapnya bisa ikuti tautan di bawah ini.

https://community.letsencrypt.org/t/how-to-stop-using-tls-sni-01-with-certbot/83210

Tidak perlu aku ulangi, karena langkahnya sudah cukup jelas di tautan tersebut. Kalau lupa dulu pake certbot atau gak, bisa langsung lakukan saja langkah pertama di tautan. Tidak ada efek negatif, perintah pertama tersebut hanya berguna untuk mengecek versi certbot di server. Kalau gak pake certbot ya nanti gak muncul versinya.

Kukira prosesnya bakal panjang, ternyata cukup sederhana. Memang keren lah ini Let’s Encrypt.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Surat Himbauan Menpora

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Habis membuka grup line yang entah kapan pindah ke whatsapp, aku sedikit membuka Line Today. Kumpulan berita terpopuler hari ini. Salah satu yang menarik adalah adanya imbauan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya di bioskop sebelum film dimulai. Yak, kalian tidak salah baca. Di bioskop, sebelum film dimulai.

Imbauan untuk menyanyi Indonesia Raya di bioskop

Aku melihat ada sesuatu yang aneh di surat edaran tersebut. Ini beneran gak nih surat resmi dari Menpora. Aku melihat satu kata tidak baku yang cukup mengganggu. Himbauan. Macam mana pula surat resmi pake himbauan.

Himbauan tidak ditemukan, mungkin perlu diusulkan
Imbauan, bentuk baku dari himbauan
Judul blog

Dapat dilihat di foto terakhir, judul blog aja ada garis merahnya. Meski tulisan himbauan itu tidak baku, ternyata itu surat resmi. Berita lengkap ada di tautan di bawah ini. Selamat bernyanyi.

https://m.kumparan.com/@kumparannews/penonton-bioskop-diimbau-nyanyi-indonesia-raya-sebelum-film-mulai-1548930277398745923

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Di trotoar jalan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Tarno duduk di trotoar jalan, di bawah pohon di dekat terminal. Kardus alas duduknya sudah rusak terkena hujan kemarin malam. Terik matahari dari pagi tidak membuat kardus itu kembali bagus.

Kaleng yang setia menemani Tarno dari beberapa minggu yang lalu berada di depan Tarno. Kaleng bekas susu itu masih kosong. Sudah beberapa hari ini orang-orang menjadi pelit. Pemberian orang yang biasanya cukup untuk makan dua kali sehari, sekarang menjadi semakin berkurang.

Suara dari perutnya mengingatkan bahwa sudah 3 hari Tarno belum makan. Tarno merasa rasa laparnya datang lagi. Dia merogoh kantong baju dan celananya, berharap keajaiban.

Kosong.

Tarno sudah mengecek kantong-kantong itu dari kemarin, berulang kali, hampir setiap jam. Tidak ada isinya. Dia berharap rasa lapar mendatangkan keajaiban, mengisi kantongnya dengan uang seribu rupiah.

Rasa lapar membuatnya ingin berkungjung ke Warung Mpok Yati, tapi ingatan tentang hutang yang menggunung dan bentakan Mpok Yati membuat dia mengurungkan niat. Dia melihat botol berisi air. Baru saja dia isi dari keran toilet terminal. Gratis. Tarno sudah dianggap sebagai bagian dari terminal sehingga penjaga toilet tidak pernah meminta uang kebersihan.

Dia membuka botol air itu dan mereguk air di dalamnya. Rasanya tidak berubah, sama seperti air yang sudah 2 hari ini dia minum. Cukup untuk meredakan rasa laparnya kemarin. Namun cara ini tidak berhasil kali ini.

Mungkin kurang banyak, pikir Tarno. Dia meminum setengah botol itu, sambil membayangkan rasa laparnya hilang.
Kenapa sih orang-orang ini tiba-tiba jadi pelit, Tarno mengutuk dalam hati. Sudah berbagai cara dia lakukan. Dari memainkan gitar 2 senarnya, menyanyikan lagu-lagu populer dengan nada semaunya, sampai berpura-pura sekarat. Nihil. Orang-orang seolah sedang berhemat semua. Jangankan seribu, seratus rupiah pun tidak ada yang memberi.

Lampu terminal menyala dan Tarno mulai putus asa. Sudah 3 kali dia ke toilet untuk mengisi botol airnya sejak siang ini, namun rasa laparnya tidak juga hilang. Tarno mempertimbangkan mana yang lebih buruk, rasa laparnya atau makian Mpok Yati.

Dalam keputusasaan, Tarno berusaha mencari jalan lain. Keluarga sudah putus hubungan dan yang bisa dianggap teman hanya Mpok Yati. Tarno teringat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia ingat. Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya. Sebuah memori menyakitkan kembali dalam ingatan Tarno. Kemarahan tak terkira pada Tuhan belasan tahun yang lalu kembali membayangi Tarno. Sebuah memori yang membuat dia meninggalkan rumah dan keluarganya, pergi ke luar kota dan menjadi penghuni tidak tetap trotoar di bawah pohon di dekat terminal.

Rasa lapar yang makin menyakitkan membuatnya mulai mempertimbangkan meminta pada Tuhan. Tarno menyalahkan perutnya yang tidak bisa menahan sakit. Pilihan antara kelaparan atau diteriaki Mpok Yati berhadapan dengan pilihan kembali meminta pada Tuhan. Satu hal yang menurut Tarno sia-sia.

Namun, kemarahan Mpok Yati lebih menakutkan daripada harga diri dan kemarahannya. Tarno memutuskan untuk mencoba sekali lagi, meminta pada Tuhan. Memberi kesempatan terakhir pada Tuhan untuk membantunya.

Tarno mengingat kembali bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhan. Yang bisa dia ingat hanya amin. Tarno memutuskan untuk bersimpuh menghadap pohon, dan mulai berbicara dengan lirih. Sembari mengutuk perutnya, Tarno meminta pada Tuhan. Tarno meminta uang 5 ribu rupiah yang akan dia tukar dengan pengampunan. Tidak semua, tapi Tarno akan berusaha memaafkan Tuhan. Tarno merasa memberikan sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak Tuhan. Permintaan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan permintaan yang dulu pernah dia minta. Tarno merasa yakin kali ini pasti dikabulkan, meskipun kalau dia bisa memilih, dia ingin permintaan yang dulu saja yang dikabulkan.

Dari pintu terminal, berjalan seorang ibu dengan anaknya. Ibu muda itu ingin mengajari anaknya berbagi. Dia mengeluarkan 5 ribu rupiah dan memberikannya ke anaknya. Sambil memberi kata-kata semangat ke anaknya untuk berbagi, ibu itu mengarahkan anaknya ke kaleng Tarno. Lima ribu rupiah masuk ke kaleng Tarno, benda pertama yang masuk ke kaleng Tarno dalam 3 hari terakhir selain air hujan.

Uang kiriman Tuhan untuk pengampunan, begitu pikir Tarno. Nasi, sayur dan lauk seadanya di warung Mpok Yati membuat perutnya berdamai.

Selesai makan, dia kembali ke bawah pohon. Menunggu. Menunggu perjumpaan kembali dengan rasa lapar dan Tuhan. Kemarahannya pada Tuhan sudah berkurang sedikit, tapi belum hilang sepenuhnya. Malam ini cuaca cerah, Tarno bisa tidur dengan perut kenyang.

Di trotoar jalan di bawah pohon di dekat terminal, Tarno menunggu. Kebaikan hati orang atau kembali tawar-menawar dengan Tuhan. Masalah esok hari yang tidak perlu dia pikirkan hari ini.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter