Surat Himbauan Menpora

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Habis membuka grup line yang entah kapan pindah ke whatsapp, aku sedikit membuka Line Today. Kumpulan berita terpopuler hari ini. Salah satu yang menarik adalah adanya imbauan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya di bioskop sebelum film dimulai. Yak, kalian tidak salah baca. Di bioskop, sebelum film dimulai.

Imbauan untuk menyanyi Indonesia Raya di bioskop

Aku melihat ada sesuatu yang aneh di surat edaran tersebut. Ini beneran gak nih surat resmi dari Menpora. Aku melihat satu kata tidak baku yang cukup mengganggu. Himbauan. Macam mana pula surat resmi pake himbauan.

Himbauan tidak ditemukan, mungkin perlu diusulkan
Imbauan, bentuk baku dari himbauan
Judul blog

Dapat dilihat di foto terakhir, judul blog aja ada garis merahnya. Meski tulisan himbauan itu tidak baku, ternyata itu surat resmi. Berita lengkap ada di tautan di bawah ini. Selamat bernyanyi.

https://m.kumparan.com/@kumparannews/penonton-bioskop-diimbau-nyanyi-indonesia-raya-sebelum-film-mulai-1548930277398745923

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Di trotoar jalan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Tarno duduk di trotoar jalan, di bawah pohon di dekat terminal. Kardus alas duduknya sudah rusak terkena hujan kemarin malam. Terik matahari dari pagi tidak membuat kardus itu kembali bagus.

Kaleng yang setia menemani Tarno dari beberapa minggu yang lalu berada di depan Tarno. Kaleng bekas susu itu masih kosong. Sudah beberapa hari ini orang-orang menjadi pelit. Pemberian orang yang biasanya cukup untuk makan dua kali sehari, sekarang menjadi semakin berkurang.

Suara dari perutnya mengingatkan bahwa sudah 3 hari Tarno belum makan. Tarno merasa rasa laparnya datang lagi. Dia merogoh kantong baju dan celananya, berharap keajaiban.

Kosong.

Tarno sudah mengecek kantong-kantong itu dari kemarin, berulang kali, hampir setiap jam. Tidak ada isinya. Dia berharap rasa lapar mendatangkan keajaiban, mengisi kantongnya dengan uang seribu rupiah.

Rasa lapar membuatnya ingin berkungjung ke Warung Mpok Yati, tapi ingatan tentang hutang yang menggunung dan bentakan Mpok Yati membuat dia mengurungkan niat. Dia melihat botol berisi air. Baru saja dia isi dari keran toilet terminal. Gratis. Tarno sudah dianggap sebagai bagian dari terminal sehingga penjaga toilet tidak pernah meminta uang kebersihan.

Dia membuka botol air itu dan mereguk air di dalamnya. Rasanya tidak berubah, sama seperti air yang sudah 2 hari ini dia minum. Cukup untuk meredakan rasa laparnya kemarin. Namun cara ini tidak berhasil kali ini.

Mungkin kurang banyak, pikir Tarno. Dia meminum setengah botol itu, sambil membayangkan rasa laparnya hilang.
Kenapa sih orang-orang ini tiba-tiba jadi pelit, Tarno mengutuk dalam hati. Sudah berbagai cara dia lakukan. Dari memainkan gitar 2 senarnya, menyanyikan lagu-lagu populer dengan nada semaunya, sampai berpura-pura sekarat. Nihil. Orang-orang seolah sedang berhemat semua. Jangankan seribu, seratus rupiah pun tidak ada yang memberi.

Lampu terminal menyala dan Tarno mulai putus asa. Sudah 3 kali dia ke toilet untuk mengisi botol airnya sejak siang ini, namun rasa laparnya tidak juga hilang. Tarno mempertimbangkan mana yang lebih buruk, rasa laparnya atau makian Mpok Yati.

Dalam keputusasaan, Tarno berusaha mencari jalan lain. Keluarga sudah putus hubungan dan yang bisa dianggap teman hanya Mpok Yati. Tarno teringat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia ingat. Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya. Sebuah memori menyakitkan kembali dalam ingatan Tarno. Kemarahan tak terkira pada Tuhan belasan tahun yang lalu kembali membayangi Tarno. Sebuah memori yang membuat dia meninggalkan rumah dan keluarganya, pergi ke luar kota dan menjadi penghuni tidak tetap trotoar di bawah pohon di dekat terminal.

Rasa lapar yang makin menyakitkan membuatnya mulai mempertimbangkan meminta pada Tuhan. Tarno menyalahkan perutnya yang tidak bisa menahan sakit. Pilihan antara kelaparan atau diteriaki Mpok Yati berhadapan dengan pilihan kembali meminta pada Tuhan. Satu hal yang menurut Tarno sia-sia.

Namun, kemarahan Mpok Yati lebih menakutkan daripada harga diri dan kemarahannya. Tarno memutuskan untuk mencoba sekali lagi, meminta pada Tuhan. Memberi kesempatan terakhir pada Tuhan untuk membantunya.

Tarno mengingat kembali bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhan. Yang bisa dia ingat hanya amin. Tarno memutuskan untuk bersimpuh menghadap pohon, dan mulai berbicara dengan lirih. Sembari mengutuk perutnya, Tarno meminta pada Tuhan. Tarno meminta uang 5 ribu rupiah yang akan dia tukar dengan pengampunan. Tidak semua, tapi Tarno akan berusaha memaafkan Tuhan. Tarno merasa memberikan sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak Tuhan. Permintaan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan permintaan yang dulu pernah dia minta. Tarno merasa yakin kali ini pasti dikabulkan, meskipun kalau dia bisa memilih, dia ingin permintaan yang dulu saja yang dikabulkan.

Dari pintu terminal, berjalan seorang ibu dengan anaknya. Ibu muda itu ingin mengajari anaknya berbagi. Dia mengeluarkan 5 ribu rupiah dan memberikannya ke anaknya. Sambil memberi kata-kata semangat ke anaknya untuk berbagi, ibu itu mengarahkan anaknya ke kaleng Tarno. Lima ribu rupiah masuk ke kaleng Tarno, benda pertama yang masuk ke kaleng Tarno dalam 3 hari terakhir selain air hujan.

Uang kiriman Tuhan untuk pengampunan, begitu pikir Tarno. Nasi, sayur dan lauk seadanya di warung Mpok Yati membuat perutnya berdamai.

Selesai makan, dia kembali ke bawah pohon. Menunggu. Menunggu perjumpaan kembali dengan rasa lapar dan Tuhan. Kemarahannya pada Tuhan sudah berkurang sedikit, tapi belum hilang sepenuhnya. Malam ini cuaca cerah, Tarno bisa tidur dengan perut kenyang.

Di trotoar jalan di bawah pohon di dekat terminal, Tarno menunggu. Kebaikan hati orang atau kembali tawar-menawar dengan Tuhan. Masalah esok hari yang tidak perlu dia pikirkan hari ini.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Run with Gugel Januari 2019

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Acara main-main yang ada lanjutannya. Run with Gugel awalnya hanya menyemarakkan program di kantor, biar ada olahraga bareng. Beberapa waktu yang lalu, ada permintaan tambahan supaya acara lari ini diadakan kembali.

Menyadari animo yang cukup tinggi, aku lalu berkonsultasi dengan pembuat poster langgananku. Poster lalu dibuat dan disebarkan ke grup Whatsapp. Waktu yang mendadak membuat beberapa orang yang ingin ikut tidak bisa bergabung karena ada acara lain.

Berempat langsung menuju GBK setelah jam kantor usai. Berjalan kaki sedikit, lalu mulailah kami berlari. Kali ini aku ingin menjadi pacer sembari berlatih cadence 180. Metronom kuputar cukup kencang dan kami berlari mengikuti metronom.

Setelah 2 kilometer bosan mendengar suara tik tok tik tok, aku menutup aplikasi metronom dan membuka spotify. Biar ada variasi. Setelah saya cek, ternyata cadence saya 180 ketika ada metronom dan turun ketika mendengarkan spotify. Masih perlu banyak latihan menggunakan metronom nih biar cadence bisa stabil 180.

Poster ketje buatan KK Marsha
Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Dari Mana

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Di sebuah tempat, seorang pria sedang mengantri. Setelah beberapa saat nomornya dipanggil melalui pengeras suara, dia lalu menuju ke meja petugas.

Petugas : Dari mana Mas?
Pengantri : Dari YYY (dengan percaya diri menyebut nama sebuah kota)
Petugas : Maksudnya tadi dari mana, saya panggil kok gak dateng-dateng
Pengantri : Oh, gak denger (sambil senyum malu)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Donor Darah 14

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Mumpung lagi gak ada event lari dan sudah waktunya untuk donor, aku meluangkan waktu untuk donor darah di PMI. Aku mengajak beberapa orang dan aku cukup senang ketika ada 2 orang yang menyatakan bersedia. Jadilah saya dan 2 rekan kantor saya berkumpul di PMI untuk donor darah bersama.

Mereka berdua baru kali ini donor darah di PMI pusat. Yang 1 terakhir donor darah 2 tahun yang lalu, yang 1agi terakhir donor ketika masih jaman kuliah. Sudah hampir 2 digit tahun sejak terakhir donor.

Pendonor kali ini pas, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. cukup banyak namun antrian tidak terlalu panjang. Butuh waktu 50 menit dari mengumpulkan form sampai makan indomie.

Sedang terbaring

Sesaat sebelum mencapai 350 ml

Kali ini aku dan rekan-rekan tidak mendapatkan suplemen penambah darah. Hanya dapat kartu dan makanan saja. Perbedaan dari sebelumnya hanyalah telur rebus kali ini sudah dikupas, sebelumnya mengupas sendiri. Teman saya ada yang dapat belum dikupas. Mungkin faktor keberuntungan saja.

Snack donor darah

Donor darah pertamaku di tahun 2019 dengan 2 downline MLM. Mayan lah, nyari 1 orang lagi bisa dapet voucher. Ayo donor darah!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Wedang Jahe Mommy

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Aku lahir dan besar di Sukoharjo. Sebagai orang Sukoharjo, aku sering minum jahe. Olahan jahe biasanya minuman jahe panas atau wedang ronde, panas juga tentunya. Baru beberapa tahun lalu aku dikenalkan dengan es jahe. Sensasi dingin ketika diminum dan hangat di leher.

Aku sering mencoba beberapa minuman jahe dalam kemasan. Beberapa ok beberapa cuma ada rasa-rasanya aja. Minuman jahe di tukang jamu pun beragam kualitasnya. Yang aku suka sih yang agak panas di leher, jadi berasa jahenya. Aku menemukan minuman jahe Mommy hari ini.

Wedang Jahe Mommy

Aku sedang haus, biasanya kalau minum ukuran 300 ml (kayaknya) sih bisa 2 kali lah. Sekali minum setengah botol. Itu gak berlaku untuk minuman ini. Baru 2 teguk langsung harus berhenti, panaaaaaas. Jahenya panas banget dan efeknya cukup lama. Sayangnya minuman ini agak manis, gak ada pilihan dengan gula sedikit. Buat penggemar minuman jahe, ini wajib dicoba. Harga belinya IDR 20,000.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Mereka Suamiku?

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Akhir bulan adalah waktuku untuk membeli buku di Google Play Store. Saat berselancar, aku menemukan bagian top selling. Bagian buku-buku yang sedang laris saat ini di Play Store.

Top selling akhir Januari 2019

Kulihat judul pada peringkat pertama, “Mereka Suamiku 2”. Loading sebentar. Mereka, menunjukkan jamak. Suamiku, menunjukkan poliandri. 2 menunjukkan ini adalah sequel. Hmmm, topik yang mungkin menarik. Mari kita bedah lebih dalam.

Mereka suamiku 2

Nama pengarang menunjukkan kemungkinan genre. Untung aku ingat pepatah terkenal, jangan menilai buku dari nama pengarang. Aku lalu membuka bagian ringkasan buku.

Sinopsis Mereka Suamiku 2

Wow, sebuah premis yang teramat sangat tidak biasa. Bukunya Kafka yang orang berubah jadi serangga tampak normal setelah membaca sinopsis buku ini. Sedikit berpikir positif, aku putuskan untuk mencari buku pertamanya.

Sinopsis Mereka Suamiku

Di mata, bukan dimata. Baru baca sinopsis aja udah kesel. Aku masih berbaik hati untuk mengunduh dan membaca contoh buku ini. Aku membaca dengan kecepatan kilat, asal sapu saja ke satu paragraf, lalu lompat le beberapa paragraf di bawahnya, lalu lompat lagi. Kisaran 5 menit, aku susah sampai ke halaman 66. Gratisnya cuma sampai segitu.

Hema adalah gadis 16 tahun yang dinikahi 3 pria bersaudara yang kaya dan ganteng. Mereka berubur 30, 25, dan 21. Hema miskin, ayahnya sakit, mau berobat pinjam ke paman yang jahat, ketemu 3 pangeran, bapaknya dibawa ke rumah sakit, bapaknya diobati, bapaknya mati setelah sempat sadar, dia tinggal bareng pamannya, melarikan diri ketemu 3 pangeran (lagi), dijual pamannya ke 3 pangeran, soft porn, melarikan diri, ketemu bandit, 3 pangeran menyelamatkan, dan habis itu aku yakin mereka menikah. Yup, 1 demi 1 menikah dengan tokoh utama.

Buku ini agak kacau sih, anak umur 16 tahun. Kalau di 9gag sih barely legal. Lalu ada soft porn. Seharusnya di Play Store untuk buku ada tanda eksplisit atau batas umur. Mungkin tampak sia-sia, toh kalau mau nyari yang lebih vulgar juga gampang. Setidaknya hal itu berguna untuk orang yang memang tidak suka, jadi gak kaget kalau baca.

Review Mereka Suamiku 2

Dari jumlah rating dan review yang ada, buku terbitan 11 Januari 2019 ini gak popular amat. Hanya menandakan minat beli masyarakat Indonesia di Play Store tidak terlalu tinggi. Kalau mau berburuk sangka, rating dan review awal ini dari pengarang dan temannya. Biar bukunya masuk ke top selling jadi mendapat paparan.

Oh ya, ada extra part juga yang dijual seharga 7 ribu rupiah. Total untuk ketiga buku ini kalau diskon 112 ribu rupiah. Mungkin ada pembaca yang tertarik.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Lembu

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Salah satu sumber informasi baru adalah guyonan. Dari ODT ke Gunung Sapi sampai ke impor lembu. Gak cuma es teh yang tambah mahal kalo ganti nama, sapi juga bisa tambah mahal kalo ganti nama.

Istilah sapi dan lembu ini agak susah juga. Merujuk kbbi, lembu itu ya sapi. Kalo kata wikipedia, lembu adalah sapi yang sudah dikebiri. Menurut dokumen BPPK, ada sapi jantan jenis lembu. Istilah yang berbeda definisi seperti ini rentan menimbulkan kesalahpahaman.

Semua link ada di bawah.

Gunung Sapi
Impor Sapi

Gunung Lembu, Panyindangan, Sukatani, Purwakarta Regency, West Java.

https://www.merdeka.com/uang/bea-cukai-salah-bedakan-lembu-dan-sapi.html

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Lembu

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-1974391/daging-sapi-impor-belum-masuk-pasaran-akibat-salah-komunikasi

https://ekonomi.inilah.com/read/detail/1886638/bingung-bedakan-sapi-dan-lembu-daging-langka

Dokumen BPPK


Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Buku Termahal di Google Play Store

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Berawal dari rasa ingin tahu, aku menemukan sebuah info tidak penting. Aku mencari dengan kata kunci “most expensive book” di Google Play Store section Books. Hasilnya cukup mencengangkan.

Ada sebuah buku yang dijual di Google Play Store seharga 27 juta lebih. Untung ada diskon, jadi harganya cuma 18 jutaan saja. Buku termahal di Google Play Store berjudul “Most Expensive Book: Only foe the lucky and rich.”. Judul yang cukup provokatif.

Ada 4 halaman di buku itu. 1 halaman sampul, 1 halaman judul, dan sisa 2 halaman lagi yang bisa dibaca dengan mengeluarkan uang 18 juta rupiah. Satu lembarnya seharga 9 juta rupiah saja. Sebuah penawaran yang tentu saja kulewatkan.

Buku ini menurutku hanya merupakan trik dari penulis untuk mencari uang. Hal penting yang bisa didapatkan oleh pembeli buku ini hanyalah hak untuk bisa sombong. Sayangnya beda antara sombong karena bisa membeli buku mahal dan kebodohan karena membeli buku gak ada isinya cukup tipis sih.

Aku menemukan sebuah buku lain yang cukup mahal namun ada isinya.

Sebuah buku karangan pahlawan Indonesia dijual cukup mahal di Play Store. Dengan harga mencapai 1,3 juta rupiah sebelum diskon, ini merupakan buku termahal kedua yang aku temukan. Buku berjudul “dari Penjara ke Penjara” karangan Tan Malaka ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dijual mahal. Harusnya buku dalam bahasa aslinya lebih murah dan lebih mudah dicari.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter