Donor darah #21

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Hari ini PMI Pusat di Kramat tampak padat. Belum sepadat dahulu saat aku menghabiskan lebih dari 2 jam untuk donor darah. Kepadatan ini hanya semu, karena kapasitas ruang tunggu dibatasi 50% saja. Hal ini membuat orang-orang berdiri di luar bangunan dan duduk-duduk di lantai senyaman mereka.

Antrian tidak terlalu panjang, ada seorang laki-laki dengan anaknya sedang berbicara dengan petugas. Bahkan aku yang jarang memperhatikan orang bisa dengan jelas melihat bahwa mata bapak tersebut merah. Kurang tidur, tebakanku dari tempat dia berada saat ini dan topik yang sedang dia bicarakan dengan petugas. Dia membutuhkan 3 kantung golongan darah A, namun dari 3 orang yang ke PMI hanya 1 orang yang berhasil donor.

Mungkin takdir, mungkin kebetulan, mungkin juga manusia cenderung melebih-lebihkan hal yang berkesan buat mereka, aku yang bergolongan darah A baru saja datang dan mendengar percakapan mereka. Perbincangan singkat, petugas memberikan form untuk diisi. Darahku akan diberikan untuk bapak tersebut.

Tertulis nama seorang wanita di form yang akan kuisi, nama wanita yang membutuhkan darah. Aku memilih tempat yang cukup sepi untuk mengisi formulir. Bapak tersebut dan anaknya mendekati dan menjelaskan sedikit, istrinya di rumah sakit dan membutuhkan 3 kantong darah untuk operasi. Aku tidak bertanya untuk operasi apa, rasa ingin tahu tidak harus selalu dipuaskan. Bapak tersebut bercerita bahwa dia mendapatkan info dari rumah sakit, donor golongan darah apa saja boleh nanti bisa ditukar dengan golongan darah A, namun PMI memberikan info yang berbeda. Hanya donor darah A untuk bisa mendapatkan golongan darah A. Tiga orang datang ke PMI, hanya 1 orang yang bergolongan darah A. Tiga donor darah yang dibutuhkan, baru ada satu yang tersedia.

Aku selesai mengisi dan masuk ke dalam kantor PMI. Bapak tersebut menunggu di luar. Tidak butuh waktu lama untuk cek HB, cek tekanan darah, dan melakukan donor darah. Sakit di ujung jari dan lekukan lengan serta darah 350 ml ditukar dengan stempel dan beberapa snack.

Saat akan meninggalkan PMI, bapak itu muncul lagi di hadapanku. Matanya lebih merah daripada sebelumnya. Bapak itu tidak tahu bagaimana cara untuk menukarkan kertas donor dengan kantong darah. Aku menemani bapak bermata merah menuju bagian resepsionis, memberikan kertas donor ke petugas, dan menunggu. Beberapa detik kemudian petugas memberikan selembar kertaas untuk diberikan ke bank darah di rumah sakit.

Bapak bermata merah menjulurkan tangan hendak menjabat tanganku. Tidak kusambut karena social distancing. Entah mana yang lebih baik, tidak menjabat atau menjabat lalu membersihkan tangan secepatnya. Bapak itu mengucapkan terima kasih, aku mengucapkan sama-sama dan bergegas pergi. Atmosfer di situ terlalu emosional.

Sakit di ujung jari dan lekukan lengan serta darah 350 ml ditukar dengan stempel, beberapa snack, dan ucapan terima kasih. Barter yang menguntungkan semua belah pihak.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Bulan pada Buku Orang-orang Proyek

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Bertahun-tahun yang lalu aku sempat belajar sedikit tentang astronomi. Ilmuku jelas tidak dalam, cuma masih sedikit nyangkut di kepala dan kadang muncul kalau topik pas. Ingatan ini muncul ketika aku sedang membaca Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Pada bagian ketiga (bab tiga), Ahmad Tohari menulis dengan detil tentang bulan sebagai latar belakang cerita. Ada sedikit rasa “kayaknya ada yang salah” ketika pertama kali membaca bagian itu, setelah berhenti untuk berpikir lebih lanjut, muncul keinginan untuk membahas lebih jauh.

Semua kutipan di bawah ini diambil dari bagian ketiga. Peristiwa terjadi di sebuah daerah di Pulau Jawa pada sebuah pagi sekitaran bulan Juni 1991.

Bulan tua. Ketika kokok ayam pertama terdengar, bulan yang tinggal sepertiga bulatan masih sepenggalah di atas ufuk barat. Di timur, bintang kejora tampak sempurna, karena langit kemarau sangat bersih.

…….

Kokok ayam terdengar makin ramai. Kelelawar dan kalong mencari tempat bersembunyi. Seakan takut kesiangan. Langit di timur merah merona, menandakan pagi kan menjelang. Bulan sudah tergelincir ke barat gunung.

…….

Dan azan Subuh sayup terdengar jauh dari seberang Sungai Cibawor. Bulan yang pasti hampir menyentuh cakrawala langit barat. Kejora memucat dan gemintang mulai tampak samar karena datangnya cahaya matahari.

Orang-orang Proyek – Ahmad Tohari

Umur bulan berkisar 0-30 hari. Bulan tua mungkin sekitaran 20-30 hari.

Bulan yang tinggal sepertiga bulatan, berarti umur bulan sekitar 23-24 hari. Masih konsisten dengan informasi sebelumnya.

Dari beberapa kalimat lainnya, kita bisa mengetahui bahwa bulan hampir tenggelam di ufuk barat saat matahari terbit, sekitar pukul 4-5 pagi. Bulan dapat diperkirakan berumur 13-14 hari.

Umur bulan menjadi tidak konsisten kalau kita gabungkan informasi yang kita dapatkan. Tidak mungkin bulan berumur 13 hari dan 23 hari pada hari dan tempat yang sama. Informasi latar belakang ini sebenarnya tidak mempengaruhi isi cerita, namun cukup mengganggu kenikmatanku ketika membaca.

Lanjut lagi baca buku, masih ada bagian keempat untuk dibaca.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 40 – Konser “ORKESTRA DI RUMAH” bersama Erwin Gutawa dan Afgan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Konser online
Platform : Website
Pengisi : Erwin Gutawa Orchestra, Afgan, Najwa Shihab, dan Woro Mustiko
Tautan : https://www.loket.com/event/konser-di-rumah-bersama-erwin-gutawa-afgan_JaU
Harga : IDR 50,000
Waktu : 40 menit

Salah satu kegiatan yang sekarang sering dilakukan adalah konser online. Kemarin sempat lihat konser online Didi Kempot, Mocca, dan beberapa artis lainnya.

Sudah lama ingin melihat Erwin Gutawa Orchestra dan kebetulan ada konser online ini. Uang tiket IDR 50,000 untuk 40 menit konser. Sebagian penghasilan dari konser ini akan disedekahkan. Ada puluhan orang yang berkolaborasi untuk menghasilkan suara ini, pasti prosesnya tidak mudah.

Konser ini dimulai tepat waktu, total lagunya sendiri “kayaknya” ada 8 lagu. Lagu-lagu yang dibawakan bertema ketuhanan.

Namanya acara online, yang paling penting adalah internet yang stabil.

Buffering
Tulisan di akhir acara

Ada puluhan pemain alat musik dan banyak penyanyi. Akan menarik kalau diceritakan proses pengambilan gambar dan suara, lalu proses penyatuannya. Aku cukup penasaran, apakah banyak digital editing untuk mengatur tempo ataukah emang udah pada jago aja mengatur tempo. Atau ada baseline yang dikirimkan dahulu sehingga mereka bisa langsung mengikuti.

Seperti biasa, suara orkestranya keren (tapi pasti lebih keren kalo live), suara Afgan merdu, suara Woro baru sekali ini aku dengar dan langsung seneng, dan suara pembacaan puisi Najwa yang khas. Mungkin bisa sebulan sekali atau dua kali nonton konser niat seperti ini.

Selamat menikmati.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 39 – Elduvik Village (Faroe Island Online Tour)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Online Tour
Platform : Website
Tujuan : Elduvik Village, Faroe Island
Tautan : https://www.remote-tourism.com/
Maps : https://goo.gl/maps/tJvrDDHZkirxGvhY8
Harga : Gratis
Waktu : 1 jam

Sekali lagi mengunjungi Faroe Island lewat tur online. Kunjungan sebelumnya bisa dibaca di sini.

Faroe Island juga terkena dampak Covid-19 sehingga sektor pariwisata menjadi sepi. Untuk tetap memberikan kesempatan orang-orang di seluruh dunia untuk “berkunjung” ke Faroe Island, dinas pariwasatanya mempunyai ide untuk melakukan tur online. Tur ini berlangsung selama 1 jam dan “pengunjung” dari seluruh dunia dapat berinteraksi langsung dengan pemandu. Tur dilakukan seminggu sekali dengan setiap tur selama 1 jam. Selama tur ada 60 orang yang bisa mengatur arah pemandu, maju, mundur, kanan, kiri, lari, dan lompat. Tur ini dilakukan setiap Kamis jam 00.00 WIB.

Elduvik, baru lihat langsung jatuh cinta

Minggu ini tur mengunjungi Elduvik, sebuah desa kecil dengan jumlah penduduk 12 (atau 23 menurut wikipedia). Kali ini aku sudah masuk sejak awal jadi aku masuk ke dalam antrian controller. Ada tulisan “Est. waiting: 1 hour” menandakan kapan aku akan mendapatkan giliran. Waktu perkiraan turun setiap menit dan setiap ada orang yang disconnect. Awalnya masuk waiting list, namun setelah 20 menit aku masuk ke daftar utama. Agak deg-degan menunggu waktu menjadi controller juga.

Menjelajahi desa kecil dengan laut di sisi satu dan pegunungan di sisi lain, sebuah pemandangan yang indah. Melihat pemandangan di Elviduk, bikin pengen lari dan jalan-jalan keliling daerah situ. Sarah menjadi guide lagi setelah tur minggu lalu juga menjadi guide di tur sebelumnya. Kali ini kami mengunjungi kuburan lama, sekolah (yang sudah tutup), tempat domba lagi makan, tempat kapal tradisional Faroe Island, dan gorge yang digunakan sebagai dermaga.

Di tur ini kami bertemu dengan 2 orang penduduk, secara tidak langsung kami sudah bertemu dengan 5-15% penduduk.

Ada banyak pemandangan menarik di tur kali ini. Semoga minggu depan tur luar ruangan lagi dan bisa ikut lagi. Bila ingin mengunjungi desa ini lewat google maps, tautan sudah aku sertakan di atas.

Selamat menikmati!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 38 – Baseline: Infrastructure

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Course online
Platform : Qwiklabs
Topik : Baseline: Infrastructure
Tautan : https://www.qwiklabs.com/quests/33
Harga : Gratis
Waktu : 3h50m (atau 6h)
Progres : 4/12 (target 12 dari total 22)
Pendahuluan : https://gugelberg.com/wfh-24-juaragcp/

Salah satu quest yang bisa dengan cepat diselesaikan. Kurang dari 4 jam bisa selesai kalau mau menyelesaikan quest dengan waktu tercepat, atau kalau mau semua lab selesai kira-kira butuh waktu 6 jam. Selain lab terakhir, lab lainnya cukup mudah diselesaikan.

Lab yang ada di quest ini:

  • Cloud Storage: Qwik Start – Cloud Console
  • Cloud Storage: Qwik Start – CLI/SDK
  • Cloud IAM: Qwik Start
  • Cloud Monitoring: Qwik Start
  • Cloud Functions: Qwik Start – Console
  • Cloud Functions: Qwik Start – Command Line
  • Google Cloud Pub/Sub: Qwik Start – Console
  • Google Cloud Pub/Sub: Qwik Start – Command Line
  • Google Cloud Pub/Sub: Qwik Start – Python
  • Baseline Infrastructure: Challenge Lab

Ada 6 tipe lab, Cloud Storage, Cloud IAM, Cloud Monitoring, Cloud Function, Google Cloud Pub/Sub, dan Challenge Lab. Ada beberapa pilihan untuk mempelajari lab-lab tersebut, apakah lewat Console, CLI/SDK, Command Line, atau Python. Pilih saja salah satu sesuai keinginan, atau pilih semua kalau mau jadi avatar.

Lab terakhir, Baseline Infrastructure: Challenge Lab, merupakan lab yang tipe baru yang pernah kuikuti. Tidak ada langkah-langkah mudah yang tinggal copy paste. Lab ini hanya berisi tujuan saja, jadi kita harus mengingat kembali cara-cara di lab sebelumnya dan memodifikasi sesuai tugas. Cukup menyenangkan, gak bisa copas-copas dan harus berpikir.

Meski lab terakhir cukup seru, secara garis besar quest ini cukup mudah untuk diselesaikan. Waktu yang dibutuhkan juga tidak lama.

Selamat belajar!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 37 – Bug di #JuaraGCP

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Course online
Platform : Qwiklabs
Topik : Machine Learning APIs
Tautan : https://www.qwiklabs.com/quests/32
Harga : Gratis
Waktu : 5 menit
Pendahuluan : https://gugelberg.com/wfh-24-juaragcp/

Sedang asyik mengerjakan GCP dan tidak bisa menyelesaikan salah satu quest karena ada bug. Perusahaan sekelas Google saja masih ada bug. Kadang ada pertukaran antara waktu rilis yang cepat dengan bug dibandingkan dengan waktu rilis yang lama namun dengan lebih sedikit bug.

Sudah 8 dari 9

Sudah menyelesaikan 8 lab dari 9 lab, namun ada error sehingga quest ini belum bisa kuselesaikan. Cukup mengganggu, tapi lebih baik mencari quest lain sambil menunggu bug ini hilang. Atau yang lebih baik lagi, lab tersebut tidak mandatory jadi quest langsung selesai.

Ada bug

Aku yang sedikit penasaran, akhirnya mengetik alamat URL tersebut. URL tersebut mengantarkanku ke web Google yang membutuhkan Single Sign On. Sila kalau yang ingin berkunjung, langsung klik link ini. Kalau yang tidak mau, begini tampilannya.

Semoga cepat selesai, karena ini menyangkut peluangku untuk mendapatkan tas gratis.

Selamat debugging!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 36 – Donor Darah ke-20

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Donor darah
Tempat : PMI Pusat Jakarta
Harga : Gratis (bahkan dikasih snack)
Waktu : ~20 menit

Tidak pernah menyangka juga akan berhasil mencapai 20 kali donor darah. Butuh waktu 697 hari dari donor darah pertama sampai donor darah ke-10. Butuh waktu 712 hari dari donor darah ke sebelas sampai donor darah ke-20, rata-rata setiap 79 hari sekali.

Donor darah kali ini pas puasa dan dalam masa pandemi, sepi. Kebutuhan darah masih banyak, buktinya ketika datang tadi darah sudah ada keluarga pasien yang mengantri darah.

Donor darah kali ini agak beda, di lantai lima. Biasanya kalau donor darah di PMI Kramat di lantai dasar, kecuali pas waktu renovasi tempo dulu. Karpet tulisan hari di lift juga diganti dengan tata cara berdiri di lift. Tidak ada antrian, baik saat pendaftaran, saat pengambilan HB, saat periksa dokter, maupun saat pengambilan darah.

Perbedaan lainnya adalah penggunaan mesin. Aku baru kali ini donor darah menggunakan mesin ini (kayaknya sih, kalau udah pernah berarti ya lupa). Ada penanda waktu dan berapa mililiter darah yang sudah ada di kantong darah. Waktu yang tertera saat aku selesai 350ml sekitar 5 menit, pendonor di sebelahku selesai setelah 7 menitan. Mesin ini ditujukan untuk monitoring petugas kesehatan, jadi kalau dari sisi pendonor tidak bisa melihat langsung ke layar. Kalau mau lihat ya harus foto dulu.

Baru kali ini pake mesin, ada volume per menit juga lho
Donor darah ke-20

Bingkisan donor darah kali ini ada bonusnya, sebuah masker kain dari PMI.

Bingkisan donor darah, ada maskernya

Mari meluangkan waktu sebentar untuk donor darah. Protokol pengambilan darah di PMI sudah dibuat seaman mungkin untuk pendonor, petugas kesehatan, dan penerima darah.

Mari memberi, mari berbagi.

Selamat donor darah!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 35 – Menambah Buku di Goodreads

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Meminta admin untuk menambah buku
Platform : Website
Tautan : https://www.goodreads.com/
Harga : Gratis
Waktu : ~10 menit

Goodreads adalah tempat untuk para pembaca buku bisa menuliskan review atau sekadar sebagai tempat mencatat buku yang ingin, sedang, atau sudah dibaca. Ini mirip seperti IMDB, tapi buat buku. Aku bergabung di Goodreads sejak Februari 2014 dan sudah mencatatkan 222 buku yang kubaca.

Saya membaca sebuah cerita pendek karangan Nasjah Djamin yang berjudul Affandi Pelukis. Selesai membaca, saya langsung ingin update di Goodreads. Namun ternyata buku ini belum ada di daftar.

Affandi Pelukis karya Nasjah Djamin

Demi bisa menuliskan di Goodreads, aku mencari tahu cara menambahkan buku ke Goodreads. Ternyata cukup mudah, tinggal masuk ke page Goodreads Librarian Groups.

Goodreads Librarian Groups

Setelah bergabung, pilih bagian Adding New Books lalu pilih new topic. Kamu akan masuk ke page baru untuk membuat topik baru.

Request penambahan buku

Habis ini mungkin bikin reviewnya dulu sambil menunggu buku ini ada di Goodreads. Untuk update penambahan buku Affandi Pelukis di Goodreads, bisa dipantau di link ini.

Selamat membaca!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

WFH 27 – Foto Bercerita (1)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Mengenang peristiwa dari sebuah foto
Waktu : Secukupnya

Kerja gak harus dari kantor

Baru sadar ada burung lagi terbang di kejauhan. Masih kelihatan meski jauh, sepertinya burung tersebut cukup besar.

Bagi yang bisa menebak dari background, foto ini diambil di puncak Gunung Batur, Bali, 5 tahun yang lalu, pada 14 Mei 2015.

Saya ke Bali bersama rombongan besar, namun saya dan seorang teman memutuskan untuk extend. Kami menyewa sebuah motor dan bermotor dari Bali Selatan sampai ke kawasan Danau Batur. Hanya berdua saja, membawa semua perbekalan karena kami tidak bisa menitipkan barang.

Berbekal google maps, kami sampai di Parking lot – Mt Batur treking. Kami membayar biaya untuk naik, namun karena mode hemat kami tidak menggunakan guide. Kami membawa semua perbekalan karena ada laptop di dalam tas. Jadilah kami mulai berjalan kaki dari situ ke arah Gunung Batur dari jam 10.30. Matahari sudah cukup tinggi dan barang bawaan kami berat.

Sekitar jam 1 kami sudah di puncak dan bertemu dengan rombongan suami istri dengan guidenya. Guide tersebut membuka sebuah warung yang ada di puncak tersebut. Dia lalu memasak roti isi pisang bakar dan telur rebus. Kami bertanya apakah dia menjual makanan juga, karena kami lapar.

Guide tersebut memasakkan kami juga roti isi selai pisang bakar plus telur rebus. Kata dia sih seikhlasnya. Aku lupa kami memberikan 50ribu atau 100ribu untuk 2 roti, 2 telur rebus, dan 2 minum. Kalau tidak salah, sudah lama juga. Namun yang aku ingat adalah rasa rotinya itu enak parah. Selai pisang bakar yang masih hangat dipadu dengan roti tawar. Mungkin karena lapar, tapi waktu itu rasanya enak banget.

Laptop yang kami bawa itu cukup berat, kalau disuruh ngasih angka asal ya 3kg lah. Sudah capek-capek bawa laptop, alangkah baiknya kalau digunakan juga untuk pose.

Foto dengan laptop itu diambil 14 Mei 2015 jam 14.18 di puncak Gunung Batur bersama roti tawar isi selai pisang bakar dan telur rebus, biar kerjanya lebih semangat.

Selamat makan!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter