WFH 28 – Mengamati

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Kegiatan : Mengamati
Harga : Gratis
Waktu : ~60 menit

Sejak lockdown ini aku jarang sekali keluar. Seminggu bisa hanya sekali, jadi kaki yang biasanya diajakin lari jadi jarang jalan-jalan. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku memutuskan kalau ke supermarket jalan kaki aja. Jaraknya ~2 km, jadi bolak-balik 4 km.

Setelah lama terkurung di dalam kamar, setiap perjalanan keluar selalu berkesan. Hari ini saja ada beberapa hal yang cukup bisa kuingat.

Beberapa saat setelah keluar kosan, aku melihat ada seorang wanita mengetuk pintu sopir sebuah taksi. Awalnya aku berpikir, aneh juga mau naik taksi kok lewat pintu sopir. Ternyata mbak-mbak ini ingin membagikan bungkusan kepada sopir taksi. Di belakang taksi tersebut ada mobil putih. Dari mobil itu keluar wanita (kayaknya ibuknya) yang membawa bungkusan untuk diberikan kepada satu sopir taksi yang sedang tidur.

Belum lagi 100 meter berjalan, tiba-tiba ada suara keras “brak”. Ternyata ada mbak-mbak boncengan yang helmnya jatuh. Ada mas-mas di pinggir jalan lalu menghentikan lalu lintas dan membantu mengambil helm yang jatuh di tengah jalan tersebut.

Beberapa ratus meter kemudian ada bau sedap menghampiri. Di depan ternyata ada warung yang sedang membakar sesuatu. Baunya enak, aku memutuskan nanti akan membeli makan di warung kepiting tersebut.

Setelah sampai di tempat tujuan dan berbelanja, aku langsung berjalan lagi ke kosan. Di perjalanan aku melihat ada orang yang lagi lari. Sedikit iri dan tiba-tiba jadi pengen lari juga, terselip rasa kagum karena susah juga lari pake masker. Saat berpapasan, ternyata masker yang digunakan tidak menutupi lubang hidung, pas sedikit di bawah lubang hidung. Hmmm.

Ketika berjalan, ada seorang bapak-bapak yang menyapa saya “Assalamualaikum Dek, halo Dek”. Aku lempeng berjalan. Aku merasa ini bapak-bapak yang sama yang menyapa aku di ruas jalan ini pada jalan yang sama beberapa hari yang lalu. Salah satu kebiasaann (buruk) yang aku lakukan adalah mengabaikan sapaan orang asing di pinggir jalan. Ada ide bagaimana seharusnya?

Sampai di tempat jual kepiting, aku bertanya pada penjualnya.

“Mas, di sini jual apa aja ya?”

“Kepiting saja.”

“Owh, kepiting saja ya.” (sedikit kecewa)

“Tapi kepitingnya lagi habis.”

“Oh yaudah makasih.”

Aku berjalan lagi. Baru beberapa langkah aku memutar badan. Ini masih sore, toko ini buka sore dan sekarang bulan puasa jadi harusnya ini baru buka. Di depan toko alat bakar, alat goreng, dan beberapa pekerja. Aku kembali dan bertanya lagi.

“Mas, lalu ini jual apa ya?”

“Kepiting, ini lagi habis. Maksudnya lagi nungguin stok dateng.”

“Oh, makasih.” (baru paham)

Melanjutkan perjalanan, sebelum sampai kosan sempat sengaja melewati tempat penjual mendoan biasa mangkal. Penjual mendoan lagi libur, terpaksa langsung balik kosan.

Satu perjalanan singkat yang biasanya tidak kuperhatikan secara detail. Sibuk dengan HP atau sambil mendengarkan sesuatu. Bosan dengan itu, kadang mengamati kejadian sekitar bisa cukup asyik.

Selamat mengamati!

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *