Review Film Milly & Mamet

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Milly & Mamet

Satu lagi film Indonesia yang wajib ditonton. Milly & Mamet merupakan film komedi romantis yang berada di satu universe dengan AADC. Film ini bercerita tentang pergulatan kehidupan keluarga tentang pekerjaan, passion, working mom, mertua, dan nilai. Plotfilm menarik, akting pemain berkelas, lagu sesuai dengan suasana dan enak didengar, humornya bikin ketawa meski ada yang garing, dramanya cukup menyentuh, cerita dan konfliknya nyata.

Milly dan Mamet menikah lalu mempunyai bayi bernama sakti. Mamet yang ingin menjadi chef terpaksa membantu mertuanya mengurus pabrik konveksi. Tiba-tiba muncul seorang cewek dari masa lalu Mamet, Alex, yang mengajak dia untuk membuka restoran. Konflik terjadi karena Mamet keluar dari pabrik dan marahan dengan mertuanya, Mamet yang sibuk di restoran sehingga sibuk, invertor (James) yang agak mencurigakan, Milly yang bosan di rumah dan ingin ada kegiatan, Mamet yang tidak ingin Sakti ditinggal di rumah oleh Milly, Milly yang cemburu, dan lain sebagainya. Menurut pandangan awam seperti saya sih konflik yang terjadi sangat nyata di kehidupan keluarga muda (dari cerita teman-teman saya).

Saya sudah menebak bahwa akan banyak adegan lawak karena film ini disutradarai oleh Ernest. Banyak adegan lucu, meski masih ada yang “apa sih”. Karakter Isyana di film ini cukup iconic, terutama dengan “Pak, Si anjing”. Adegan haru ada beberapa kali. Geng AADC juga muncul dan ada beberapa quote terkenal AADC yang dimunculkan.

Klimaks film ini cukup menyentuh, diiringi lagu dan pesan yang baik. Nilai apa yang menurutmu paling utama untuk kamu ajarkan ke anakmu? Menurut Mamet, nilai itu adalah kejujuran. Lebih daripada mencari kekayaan atau mengejar mimpi. Solusi untuk konflik sudah pas, meski dalam perjalanannya ada yang mengganjal menurutku.

Film ini juaraaaaak.

SPOILER

Ada beberapa hal yang agak mengganjal dan menimbulkan pertanyaan. Milly menuduh uang investasi restoran dari James merupakan uang tidak halal. Mamet percaya dengan Alex bahwa Alex tahu bahwa Mamet orang jujur yang tidak akan mau berurusan dengan uang haram. Milly marah ketika Mamet lebih percaya Alex daripada dia. Kalau dari sisi penonton, Milly belum mempunya bukti yang kuat, hanya kesimpulan logis dari latar belakang James dan keluarganya. Mamet merasa Alex adalah teman yang bisa dipercaya. Ya, kalau Mamet percaya dengan Alex gak salah-salah amat sih. Jalan tengahnya Mamet percaya namun akan melakukan investigasi terkait kecurigaan Milly. Ketika kita punya mimpi, saran dari orang terdekat pun bisa serasa kritik yang menyakitkan dan menutup nalar. Antara kepercayaan dan kecurigaan, sebuah topik menarik yang kurang dalam dibahas.

Setelah Milly dan Mamet beradu argumen, Milly memutuskan untuk bertemu dengan James. Apa alasan Milly ingin bertemu dengan James? Apa rencana Milly? Aku belum menemukan alasan kuat Milly melakukan hal tersebut.

Salah satu adegan haru yang penting antara Milly dan Mamet terjadi di ruangan James. Percakapan serius itu dilakukan di depan James. Aku tidak bisa konsentrasi karena agak susah membayangkan ada orang lain di pembicaraan pribadi seperti itu. James yang menjadi comic relief di situ juga membuat suasana haru menjadi hilang. Adegan yang seharusnya penuh makna tapi diinterupsi hanya demi gelak tawa sesaat. Sayang sekali.

Banyak adegan sarat makna di film ini, terutama pertengkaran di dalam keluarga. Konflik itu tidak bisa dihindari, perbedaan pendapat itu akan terus ada, tapi namanya keluarga ya ada untuk berdiskusi menyesaikan masalah yang muncul, bersama-sama. Kalau masalah dihadapi sendirian terus mah mending nikah sendiri aja.

Mamet, sebagai suami dan ayah, berusaha semaksimal mungkin agar bisa dibanggakan oleh keluarganya. Dia memberikan target yang menurut dia bisa dibanggakan, menjadi chef. Padahal menurut Milly, bukan itu yang penting untuk dia. Bagus sih pesannya.

Salah satu hal yang aku suka adalah adanya kritik terhadap pengusaha jahat yang “disamarkan” dalam bentuk komedi. James yang “seolah-olah” mempunya kekuatan untuk mengusir restoran lain, atau membakar gerobak, atau mengurus ijin dengan gampang. Praktik yang semoga saja akan berkurang dari Indonesia.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *