Tragedi Roti

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Aku dan 4 orang teman berbelanja di supermarket untuk persiapan berkemah di salah satu gunung. Hasil diskusi kami adalah bekal makanan jadi untuk makan malam dan mie instan plus roti untuk sarapan.  Kami bergerilya di supermarket membeli makanan ringan, air, tali rafia, dan lain-lain.

A : Wah, enaknya roti sama susu coklat nih
B : Coba dicek tanggal kadaluarsanya
A : (sambil melihat susu coklat)
B : Bukan susunya, rotinya dong

Pengecekan menghasilkan informasi bahwa roti tersebut masih layak makan. Aku membeli keju untuk kutambahkan ke roti tawar. Sudah terbayang enaknya sarapan roti keju susu coklat. Kami lalu membawa barang belanjaan ke kasir dan membayar.

Kami pergi ke basecamp dan mulai packing di mobil. Barang belanjaan disebar secara tidak merata. Aku kebagian membawa snack. Setelah packing selesai, mobil dikunci, kamipun mulai berjalan untuk naik gunung.

Beberapa jam kemudian, kami sudah sampai di tempat berkemah. Langit sudah gelap dan kami baru mulai mendirikan tenda. Dua tenda telah berdiri, alat masak dikeluarkan, dan Aku mulai pamer keahlian memasak. Aku merebus air.

Saat melakukan inventarisasi, kami menyadari ada sebuah benda penting yang hilang. Roti tawar kami hilang. Tiap orang diinterogasi dan hasilnya nihil. Tidak ada yang membawa roti tawar.

Sedikit perdebatan muncul, ada di mana roti tersebut. Mengapa tidak ada yang membawa roti tersebut? Siapa yang berada paling dekat dengan roti tersebut di mobil?

Rencana indah untuk sarapan roti keju susu coklat akhirnya buyar. Penuh kecewa, aku sarapan keju sambil membayangkan roti tawar. Seorang teman berkata, “Aku ngimpi tentang roti.”

Kami turun sambil sesekali membahas roti tawar tersebut. Di bagian mobil sebelah mana roti tersebut berada. 1 orang packing di kursi sopir, 1 orang packing di sebelah sopir, 2 orang packing di daerah bagasi, dan aku parkir di kursi tengah. Siapa yang paling dekat dengan roti tersebut?

Sesampainya kami di mobil, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek keberadaan roti.

Bagian depan gak ada.

Bagian tengah gak ada.

Bagian belakang juga gak ada.

Roti itu lenyap.

Aku menyerah dan berpikir mungkin saja roti tersebut ada yang meletakkan di luar dan diambil orang.

Salah seorang teman yang teliti dan kurang kerjaan akhirnya melihat struk pembelian supermarket. Dia tidak menemukan adanya pembelian roti.

Roti sudah kami ambil dari rak.

Roti sudah masuk ke keranjang.

Roti sudah diberikan ke kasir.

Lalu roti lenyap.

Pantas gak ada yang bawa roti, lha emang gak beli.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *