Review Film Keluarga Cemara

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Keluarga Cemara, sebuah sinetron legendaris yang diangkat kembali melalui sebuah film layar lebar. Aku membaca buku karya Arswendo untuk lebih memahami karakter-karakter di Keluarga Cemara. Filmnya merupakan prequel dari buku yang kubaca. Filmnya sedih dan lucu. Wajib ditonton. 9/10

Ada sedikit perbedaan dari buku dan filmnya, seperti usia Euis, usia Ara, becak Abah berganti motor, dan karakter Ceuk Salmah. Secara garis besar, menurutku filmnya sudah menggambarkan Keluarga Cemara dengan baik. Nilai-nilai Keluarga Cemara dan potongan-potongan kehidupan mereka yang sangat dekat dengan realita, meskipun ada sedikit dramatisir.

Film ini cenderung mengharukan dan bagi yang peka mungkin bakal muncul keringet dari mata. Adegan sedihnya buanyak meski banyak juga adegan lucu, terutama karena Ara. Dialog antar karakter sangat mengalir dan gak kaku. Aktingnya keren-keren, pemainnya cocok banget lah. Lagu-lagunya juga enak didengar, langsung masuk playlist.

Film ini bercerita ketika Abah bangkrut dan harus memboyong keluarganya ke desa, ke rumah peninggalan orang tuanya. Konflik terjadi karena Abah tidak punya pekerjaan, Emak hamil, Euis kangen Jakarta, dan Ara ngelawak aja.

Tanpa spoiler, ada beberapa adegan yang cukup berkesan. Kalau pakai spoiler jadi banyak, jadi fokus ke yang tanpa spoiler aja.

Adegan pertama adalah adegan Abah berkata bahwa adalah tugas suami sebagai kepala keluarga untuk bekerja dan bertanggung jawab atas keluarganya. Lalu ada ibu-ibu yang mengoreksi, bahwa menikah adalah kesepakatan 2 orang, jadi usaha yang dilakukan bukan tanggung jawab laki-laki saja. Adegan singkat tapi penuh makna.

Beberapa adegan ketika konflik terjadi antara Abah dan Euis. Kebanyakan Abah akan berusaha mengajak diskusi, meski kadang Abah juga tidak terbuka 100%. Ini hal yang perlu dilakukan, dialog. Tidak ada konflik dalam film ini karena salah paham. Konflik yang biasanya ada karena ada 1 pihak yang menyimpan informasi atau salah dengar atau mendengar fitnah dari pihak lain atau sebangsanya. Konflik di film ini terasa lebih nyata, keinginan seorang anak yang dilarang orang tuanya. Satu lagi, tidak ada adegan kekerasan. Semarah apapun Abah, dia tidak memukul keluarganya. Stop kekerasan dalam rumah tangga! Dialog!

Di buku, Abah digambarkan menjunjung tinggi kejujuran. Film ini lebih menonjolkan bagaimana Abah sekeluarga beradaptasi terhadap perubahan kekayaan. Namun sifat Abah sedikit nampak ditampilkan ketika memberikan pesangon kepada pekerjanya meskipun dia juga membutuhkannya. Itu hal yang akan Abah lakukan dan aku suka di film dimunculkan adegan itu.

Hal lainnya yang aku suka adalah sampai film berakhir, kita tidak tahu nama asli pemeran utama kecuali Cemara. Abah ya Abah, Emak ya Emak, dan Euis juga nama panggilan. Agil belum jadi pemeran utama, tapi namanya Agil. Hal ini sesuai yang ada di buku, nama mereka tidak pernah disebutkan secara jelas (saya baru baca 1 buku, mungkin di buku 2 namanya disebutkan).

Aku puas nonton film ini di bioskop. Setting cerita dan pemain membuat masih mungkin ada sequelnya. Kalau ada sequelnya, aku bakal nonton.

SPOILER

Adegan cukup menyentuh adalah ketika Emak hamil dan dia ingin memberi tahu ke Abah. Sebuah berita yang seharusnya bahagia namun dikabarkan dalam keadaan serba kekurangan dan menjadi beban baru. Emak mengabarkan berita gembira menjadi berita sedih dan Abah mengambil sisi positif dalam berita tersebut. Bukan hal yang mudah, tapi itulah Abah.

Emak ada ketika Abah kaya, akankah Emak pergi ketika Abah jatuh miskin? Apakah janji setia dalam senang ataupun susah tetap akan ditepati? Ya pasti jawabannya iya, kalau gak bukan film Keluarga Cemara. Meski jatuh miskin, Emak tidak pernah menyalahkan Abah. Emak tahu bahwa semua itu bukan salah Abah dan tetap mendukung Abah. Emak emang beda.

Konflik Euis dengan teman-teman lamanya menurutku cukup bagus. Teman-teman lama Euis di Jakarta tidak dibuat seperti teman-teman jahat. Mereka manusia biasa yang punya teman baru ketika temannya ada yang pindah. Sedih, tapi itulah hidup. Mau gimana lagi, faktor geografis memang menjadi salah satu faktor kunci pertemanan.

Adegan paling menyentuh menurutku ketika Abah menyalahkan dirinya sendiri telah membuat keluarganya jatuh miskin. Sebuah keputusan yang membuat keluarganya menderita. Meskipun dia berusaha supaya keluarganya bahagia dan mereka bahagia, tapi rasa bersalah Abah tetap ada. Ketika kamu melakukan sebaik yang kamu bisa namun hasilnya malah membuat orang yang kamu sayangi menderita. Sebuah perasaan yang cukup menyakitkan.

NB : Penulis belum berkeluarga, kalau ada salah ya harap maklum

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

6 Replies to “Review Film Keluarga Cemara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *