Penyebab kecelakaan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Apakah kamu pernah tidak melakukan kesalahan namun menjadi penyebab kecelakaan tanpa terlibat secara langsung dalam kecelakaan tersebut? Aku sudah pernah.

Di sebuah pagi, aku seorang diri ingin menyeberang jalan di sebuah pelican crossing. Aku memencet tombol yang akan membuat papan indikator menghitung mundur. Lampu lalu lintas masih hijau, tanda kendaraan boleh melaju.

Beberapa detik kemudian, lampu hijau padam dan lampu merah menyala. Arus kendaraan tidak terlalu ramai pagi itu. Ada satu mobil dan satu sepeda motor berhenti, menunggu lampu berubah warna. Aku melihat ke arah kiri, memastikan aman untuk menyeberang di jalan searah.

Aku memutuskan belum aman untuk menyeberang jalan karena ada sepeda motor yang cukup kenjang di kejauhan. Sepeda motor itu makin dekat dan kecepatannya tidak turun. Dari arah geraknya, aku menebak sepeda motor itu akan menabrak sepeda motor yang berhenti. Otak masih loading, mulut masih menunggu perintah, kecelakaan pun tidak bisa dihindari.

Bruaaaaaaak.

Kedua sepeda motor terjatuh bersama pengemudinya. Pengemudi yang ditabrak marah-marah sambil memberikan transfer energi ke helm penabrak lewat telapak tangannya. Mereka pun bertukar argumen, untungnya tanpa transfer energi lebih lanjut.

Apakah aku salah? Tentu saja tidak, aku hanya ingin menyeberang jalan.

Apakah aku terlibat langsung? Tidak juga, aku hanya saksi mata saja. Aksiku dalam kecelakaan ini juga minimal.

Apakah kecelakaan ini akan terjadi kalau aku tidak ada? Kalau aku tidak ingin menyeberang jalan dan memencet tombol, tentu saja motor itu tidak akan berhenti dan kecelakaan itu tidak akan terjadi.

NB : Bisa dibilang juga aku terlibat langsung sih, tapi tak mengapa. Biar lebih dramatis ceritanya.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *