Tisu

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Toilet adalah tempat penuh inspirasi, salah satunya untuk bahan tulisan blog. Bingung mau nulis apa, liat tulisan tidak baku pun bisa jadi bahan.

Menurut KBBI, tissu itu tidak baku. Bentuk bakunya adalah tisu.

Ada yang bisa menebak toilet di mana ini?

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Sambal Pecel Resep Keluarga

Mudik kali ini aku mendapatkan salah satu resep turun temurun keluarga. Resep pembuatan sambal pecel yang bisa digado. Sambal pecel resep keluarga (SPRK) yang perlu dipelajari dan dicatat agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

Berdasarkan testimoni dari beberapa anggota keluargaku, sambal pecel ini merupakan sambal pecel paling enak. Rasanya mengalahkan sambal pecel di luar sana. Keunggulan SPRK adalah lebih enak, sedikit pedas, dan bisa digado. Penulis telah membuktikan sendiri, secara tidak sadar menggado sambal pecel yang belum dicampur air.

Bahan :

  • Kacang 2 kg
  • Gula jawa 1 kg
  • Lombok besar 1 genggaman nenekku
  • Lombok kecil 1 genggaman adik sepupuku
  • Asem 2 bungkus dari toko sebelah
  • Bawang putih 1 genggaman nenekku
  • Bawang merah goreng sedoyannya
  • Daun jeruk purut sesuai selera
  • Garam secukupnya

Bahan-bahan di atas ditumbuk dengan alu dan lumpang pusaka keluargaku.

Mudik kali ini aku akan membawa sambal pecel ini. Bagi yang ingin mencicipi, bisa japri saja biar tidak kehabisan.

Wayang Orang Sriwedari

Bingung mau ngapain di Solo? Mending nonton wayang orang Sriwedari. Mulai jam 20.15 sampai selesai dengan harga tiket antara 5 ribu sampai 10 ribu saja. Pentas sudah ada jadwal dan judulnya.

Setelah memilih judul, akhirnya aku dan saudara-saudara memutuskan untuk menonton Petruk Dadi Ratu. Tiket VIP sudah habis, jadi kami membeli tiket kelas I. Pementasan dilakukan dalam bahasa Jawa, beberapa dialog dalam krama inggil. Untuk yang hanya bisa bahasa Jawa ngoko seperti aku akan kesulitan mengikuti jalannya cerita. Untungnya ada layar yang menceritakan garis besar adegan yang sedang terjadi.

Dari baris tengah, suara gamelan jelas terdengar, penyanyi juga, namun suara pemain kadang kurang jelas. Kadang suara dari penonton lain lebih keras dari suara pemain.

Selain mendapatkan cerita, aku juga mendapatkan beberapa lelucon receh. Hiburan rakyat. Menghibur, murah, namun berkualitas.

River Tubing Pusur Adventure

Jarak : 1.2 kilometer
Waktu :  1 jam
Biaya : 50 ribu per orang kalau hanya snack, kalau dengan makan 70 ribu per orang
Perlengkapan : helm, vest, ban. Cukup memadai
Kondisi sungai : berbatu dengan beberapa tempat arusnya kencang
Simpulan : 8/10

Bangun sedikit siang, dapat tawaran untuk tubing di deket Sukoharjo. Udah Whatsapp CP dan pesan jam 11 untuk 7 orang. Cuaca mendukung, mendung, gak panas gak hujan. Kelompok kami digabungkan dengan 3 kelompok lain dengan total orang sekitar 30an.

Tubingnya sendiri cukup seru, tapi sering nyangkut di batu. Sepanjang perjalanan, ada belasan petugas yang membantu dan mengawasi. Ada 1 tempat yang tidak bisa dilalui lewat jalur air karena terlalu berbahaya, jadi turun ban dulu, jalan dikit, lanjut rebahan lagi.

Ada tantangan menarik dari penyelenggara, kalau 50% orang bisa perosotan (5 meter) dan gak terbalik, gak usah bayar. Dari belasan orang yang mencoba, tidak ada yang berhasil termasuk pemandunya. Tantangan yang kemungkinan menangnya kecil.

Digitalisasi Novel Indonesia

Aku termasuk orang yang gemar membaca. Salah satu keinginanku adalah membaca buku-buku karya penulis Indonesia atau yang memengaruhi sejarah Indonesia. Buku-buku yang dulu sempat muncul di soal pelajaran bahasa Indonesia juga menarik untuk dibaca.

Sudah ada beberapa buku yang aku baca, seperti Sitti Nurbaya, Robohnya Surau Kami, dan Max Havelaar. Buku-buku tersebut cukup memberikan pandangan baru terkait sosial politik pada tahun pembuatan. Aku ingin lebih banyak menikmati buku-buku seperti itu, tapi agak susah mencarinya.

Aku lebih suka buku fisik, tapi kadang versi digital lebih mudah dibawa. Sudah ada usaha pemerintah untuk digitalisasi buku, seperti aplikasi iJakarta. Untuk versi digital, aku lebih sering membaca melalui Google Play Books. Sayangnya belum semua buku bisa kutemukan di Play Store.

Digitalisasi cukup penting untuk menjangkau pembaca muda (dan tua). Hal tersebut juga berguna untuk mengabadikan karya. Pembaca juga lebih mudah mendapatkan karya untuk dibaca.

Setelah menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, aku ingin membaca bukunya. Aku menemukan bukunya di Play Store, tetapi aku urung membelinya. Sebuah buku Indonesia tapi disediakan oleh penerbit Malaysia. Gak papa sih, cuma masih belum ikhlas aja untuk beli.

Kalau sampai tahun depan tidak ada penerbit Indonesia yang menyediakan versi digital buku ini (dan buku-buku lain) di Play Books, aku mungkin akan membeli versi di atas. Aku menunggu.

Pendakian Gunung Lawu via Cemara Sewu Tektok

Mode : Trekking
Waktu naik : 3 jam 52 menit
Waktu istirahat di Mbok Yem : 1 jam 30 menit
Waktu turun : 2 jam 20 menit menit
Penambahan elevasi : 1358 meter
Tempat berkemah : Post 1, post 2, post 3, post 4, post 5, warung-warung
Anggota : 2 orang

Saya dan teman saya, sebut saja Kris, berencana untuk tektok Gunung Lawu. Setelah mempertimbangkan faktor cuaca dan lain-lain, kami memilih jalur Cemoro Sewu untuk naik dan turun. Kami sampai di basecamp Cemoro Sewu jam 22.30. Setelah mendaftar untuk naik, kami beristirahat di salah satu warung sampai jam 5 pagi. Meskipun kami hanya di basecamp dan di dalam ruangan, kami masih kesulitan untuk tidur karena kedinginan.

Tips : Kalau ingin tektok dan tidur di basecamp, tetap bawa sleeping bag.

Kami memulai pendakian sekitar 5.20 dan sampai di puncak sekitar jam 9.20. Kami sempat beristirahat di Warung Mbok Yem selama 90 menit. Kami beruntung masih mendapatkan pecel telur. Beberapa pendaki setelah kami tidak mendapatkan telur, lauknya diganti tempe. Beberapa pendaki setelahnya bahkan tidak bisa pesan makanan karena lauknya tidak ada.

Kami beruntung cuaca cerah dari berangkat sampai turun kembali. Dari beberapa kali lewat Cemoro Sewu, ini merupakan cuaca yang paling cerah. Akhirnya saya bisa melihat pemandangan ke arah kaki Gunung Lawu. Banyak pendaki yang berhenti untuk swafoto atau sekadar menikmati pemandangan.

Pendakian sendiri cukup ramai dan beberapa tempat kemah agak penuh, tapi tempat kemah cukup luas. Jangan takut kehabisan tempat. Kalau kepepet bisa menginap di warung. Jalan kaki 6 jam hanya untuk foto-foto 10 menit. Dan tentu saja untuk makan pecel.

 

Peralatan yang kami bawa untuk tektok Gunung Lawu :

  • Trekking pole : sangat membantu untuk naik dan turun
  • Jas hujan : antisipasi hujan
  • Emergency kit : wajib dibawa
  • Air minum : secukupnya untuk naik, nanti beli di warung ketika akan turun
  • Uang : untuk beli minum dan makan di warung
  • Topi/buff/base layer : melindungi dari panas

Naik

  • Basecamp -Post 1 = 37 menit
  • Post 1 – Post 2 = 56 menit
  • Post 2 – Post 3 = 42 menit
  • Post 3 – Post 4 = 49 menit
  • Post 4 – Post 5 = 12 menit
  • Pos 5 – Puncak = 36 menit
  • Total naik = 3 jam 52 menit

Turun

  • Puncak – Warung Mbok Yem = 27 menit
  • Warung Mbok Yem – Post 5 = 18  menit
  • Post 5 – Post 4 = 7 menit
  • Post 4 – Post 3 = 19 menit
  • Post 3 – Post 2 = 25 menit
  • Post 2 – Post 1 = 39 menit
  • Post 1 – Basecamp = 30 menit

Bisa dilihat dari data di atas, perbedaan tidak terlalu mencolok ketika dari Post 1 – Basecamp. Hal ini disebabkan trek yang cukup panjang dan perubahan elevasi yang tidak terlalu besar. Jalur yang dilalui cukup landai dan tenaga masih full di awal perjalanan. Untuk partisi lain, trek cenderung curam sehingga ketika naik waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama dibandingkan ketika turun.

Home Alone

Aku sudah merantau sejak lulus SMP. Makin lama makin jarang pulang, kalau pulang pun paling sering 2-3 hari, setahun 2-3 kali. Aku bisa dibilang pendatang di rumah sendiri, tidak tahu ritme pekerjaan di rumah.

Aku yang jarang pulang diberi hadiah istimewa, keluarga yang lain ada acara di luar kota. Aku yang akan sendirian di rumah, harus melakukan beberapa pekerjaan penting yang dilakukan setiap hari, memberi makan hewan dan diriku sendiri.

KUCING

Kita mulai dari yang paling mudah, memberi makan kucing. Ada 2 kucing di rumah, cukup diberi makan dan minum saja di tempatnya. Kalau kosong tinggal diisi ulang. Easy.

Ayam

Makanan ayam tidak langsung jadi seperti makanan kucing, perlu proses. Rebus 1 porsi nasi aking sampai mendidih, lalu cuci nasi. Katanya sih agar kotoran dan jamurnya gak dimakan ayam. Campurkan seporsi katul dengan nasi tersebut, aduk merata. Voila, makanan ayam siap disajikan.

Ikan Lele

Ini juga gampang. Dua takar makanan ikan lele dimasukkan ke dalam kolam ikan lele. Cuma ada 1 kolam. Selesai.

Ikan Gurami

Nah ini yang agak tricky. Ada 3 kolam dengan 3 porsi makanan yang berbeda. Kolam 1 cukup 2 gelas, kolam 2 harus 2,5 gelas, dan kolam terakhir 2 gelas lebih dikit. Mana yang kolam mana? Setelah berpikir sejenak, lebih baik setiap kolam 2,25 gelas saja.

Ada instruksi tambahan ketika memberi makan ikan (dan ayam). Kalau hujan, jangan diberi makan. Ikan-ikan ini peka, entah dengan suara atau gangguan di permukaan air, jadi mereka langsung muncul ke permukaan ketika saya melemparkan makanan. Kalau hujan, mereka sepertinya tidak bisa membedakan kalau itu jam makan.

Yang kedua, ikan-ikan ini ganas. Kalau diberi makan, harus diawasi karena ada kemungkinan mereka lompat keluar kolam. Ikan gurami tidak bisa bernapas  di luar air, jadi kalau tidak dibantu, kemungkinan mereka bertahan hidup (sampai siap digoreng) akan kecil.

Yang ketiga, harus memastikan kucing tidak berenang di kolam. Kucingku belum diajari berenang jadi perlu bantuan untuk bisa kembali ke darat.

Ternyata ada tambahan hal yang perlu diperhatikan. Ada kemungkinan ayam mencoba berenang. Mereka juga perlu diselamatkan. Katanya sih sudah ada 1 ayam yang mencoba belajar berenang dan gagal. Yang ini kebetulan bisa aku selamatkan.

Aku

Ini yang paling susah sih. Aku jarang nyari makan sendiri. Butuh satu jam berkendara keliling Solo Baru dan Solo baru menemukan tempat makan. Itu juga karena sudah terlalu lapar dan bingung mau makan apa, jadi seadanya saja. Memang kadang lebih gampang mengikuti perintah orang daripada harus mikir sendiri.

Penyebab kecelakaan

Apakah kamu pernah tidak melakukan kesalahan namun menjadi penyebab kecelakaan tanpa terlibat secara langsung dalam kecelakaan tersebut? Aku sudah pernah.

Di sebuah pagi, aku seorang diri ingin menyeberang jalan di sebuah pelican crossing. Aku memencet tombol yang akan membuat papan indikator menghitung mundur. Lampu lalu lintas masih hijau, tanda kendaraan boleh melaju.

Beberapa detik kemudian, lampu hijau padam dan lampu merah menyala. Arus kendaraan tidak terlalu ramai pagi itu. Ada satu mobil dan satu sepeda motor berhenti, menunggu lampu berubah warna. Aku melihat ke arah kiri, memastikan aman untuk menyeberang di jalan searah.

Aku memutuskan belum aman untuk menyeberang jalan karena ada sepeda motor yang cukup kenjang di kejauhan. Sepeda motor itu makin dekat dan kecepatannya tidak turun. Dari arah geraknya, aku menebak sepeda motor itu akan menabrak sepeda motor yang berhenti. Otak masih loading, mulut masih menunggu perintah, kecelakaan pun tidak bisa dihindari.

Bruaaaaaaak.

Kedua sepeda motor terjatuh bersama pengemudinya. Pengemudi yang ditabrak marah-marah sambil memberikan transfer energi ke helm penabrak lewat telapak tangannya. Mereka pun bertukar argumen, untungnya tanpa transfer energi lebih lanjut.

Apakah aku salah? Tentu saja tidak, aku hanya ingin menyeberang jalan.

Apakah aku terlibat langsung? Tidak juga, aku hanya saksi mata saja. Aksiku dalam kecelakaan ini juga minimal.

Apakah kecelakaan ini akan terjadi kalau aku tidak ada? Kalau aku tidak ingin menyeberang jalan dan memencet tombol, tentu saja motor itu tidak akan berhenti dan kecelakaan itu tidak akan terjadi.

NB : Bisa dibilang juga aku terlibat langsung sih, tapi tak mengapa. Biar lebih dramatis ceritanya.