Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita – Komunitas #1Minggu1Cerita

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Judul Buku : Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita
Pengarang : Komunitas #1Minggu1Cerita
Jumlah Halaman : 265
**

Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita

Buku Antara Cinta, Budaya, dan Generasi kita merupakan antologi cerita pendek dari komunitas #1Minggu1Cerita. Sebuah komunitas tempat salah seorang teman saya bernaung. Ada 22 cerita pendek dalam buku ini mencakup cinta, budaya, masa kini, dan juga kisah masa lalu.

Ada 22 penulis sehingga ada 22 tulisan dengan gaya yang berbeda-beda. Ada yang pemilihan katanya enak dinikmati, ada yang ringan, ada yang bergaya teenlit, ada yang lucu. Ragam budaya penulis juga membuat ada beberapa cerita yang diselipi bahasa lokal sehingga perlu catatan kaki.

Bila harus memilih, berikut ini adalah cerita yang paling aku suka.

  1. Gasiang oleh Dharma Poetra
  2. Bisikan Rindu oleh Merisa Putri
  3. Kala Hujan oleh Reytia Anindita
  4. Konde oleh Ismail Sunni
  5. Sepasang Mata Bola yang Menari oleh Peppy Febriandini
Konde oleh Ismail Sunni

Konde bercerita tentang Arya, pemuda mendekati kepala tiga, pernah kuliah di teknik elektro, berkecukupan, bekerja sepagai programmer dan belum punya pasangan. Untung dia tidak lulus kuliah, jadi ada sedikit pembeda dengan teman penulis. Konflik terkait perjodohan jadi kocak diceritakan. Cerita Arya mungkin bisa disimpulkan dalam kalimat “desperate times call for desperate measures”.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Pendakian Gunung Prau Via Dieng PP

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Mode : Camp
Waktu naik : 3 jam 15 menit
Waktu tempat berkemah – tempat melihat matahari terbit : 25 menit
Waktu turun : 2 jam 15 menit turun
Penambahan elevasi : 505 meter
Tempat berkemah : Telaga Wurung
Anggota : 5 orang
Tenda : 2
TLDR : Cocok untuk pemula, rute tidak terlalu terjal, tempat berkemah luas, waktu tempuh singkat, dan pemandangan indah.

Pendakian Gunung Prau melalui jalur Dieng cukup mudah ditemukan, cukup ke kawasan Dieng Plateau dan cari saja Restoran Bu Djono. Di sana kita bisa makan, beli makanan untuk bekal, dan menitipkan mobil. Untuk sepeda motor, bisa langsung diparkirkan di dekat basecamp.

Restoran Bu Djono

Jalur pendakian Gunung Prau dari Dieng ini cukup landai dan banyak pepohonan, sehingga cukup sejuk. Penanda menuju puncak cukup jelas, meskipun ketika turun harus hati-hati agar tidak tersesat ke jalur Dwarawati atau Kaliembu. Ada tower di dekat puncak sehingga sinyal masih bisa didapatkan di jalur pendakian (bila beruntung). Dari puncak menuju Telaga Wurung masih ada sinyal Telkomsel.

Gunung Prau secara keseluruhan sangatlah luas, jadi tidak perlu takut kehabisan tempat berkemah. Namun bila ingin tempat berkemah yang cukup datar, sepi, dan angin tidak terlalu kencang, pilihlah Telaga Wurung. Kalau malas bangun pagi dan ingin langsung ke tempat melihat matahari terbit juga bisa, tapi di sana sangat ramai. Ada ratusan pendaki yang berkemah di sana, suasana bisa digambarkan mirip dengan pasar.

“Pasar” di Gunung Prau dengan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro sebagai latar

Pemandangan Gunung Prau sangatlah memesona. Kita bisa melihat 5 gunung dalam satu frame pandangan : Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Andong.

Detail perjalanan Gunung Prau via Dieng

 

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

me+sukses+kan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Sukses merupakan salah satu momok ketika bergabung dengan awalan me- dan akhiran -kan.

Ada 3 kata yang sering digunakan.

  1. Mensukseskan : Paling enak diucapkan dan ditulis
  2. Menyukseskan : Sesuai dengan KBBI
  3. Mesukseskan : Paling tidak enak untuk diucapkan

Sampai aku menemukan format ke-4.

menyukseskan+mensukseskan = menysukseskan
Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Tragedi Roti

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Aku dan 4 orang teman berbelanja di supermarket untuk persiapan berkemah di salah satu gunung. Hasil diskusi kami adalah bekal makanan jadi untuk makan malam dan mie instan plus roti untuk sarapan.  Kami bergerilya di supermarket membeli makanan ringan, air, tali rafia, dan lain-lain.

A : Wah, enaknya roti sama susu coklat nih
B : Coba dicek tanggal kadaluarsanya
A : (sambil melihat susu coklat)
B : Bukan susunya, rotinya dong

Pengecekan menghasilkan informasi bahwa roti tersebut masih layak makan. Aku membeli keju untuk kutambahkan ke roti tawar. Sudah terbayang enaknya sarapan roti keju susu coklat. Kami lalu membawa barang belanjaan ke kasir dan membayar.

Kami pergi ke basecamp dan mulai packing di mobil. Barang belanjaan disebar secara tidak merata. Aku kebagian membawa snack. Setelah packing selesai, mobil dikunci, kamipun mulai berjalan untuk naik gunung.

Beberapa jam kemudian, kami sudah sampai di tempat berkemah. Langit sudah gelap dan kami baru mulai mendirikan tenda. Dua tenda telah berdiri, alat masak dikeluarkan, dan Aku mulai pamer keahlian memasak. Aku merebus air.

Saat melakukan inventarisasi, kami menyadari ada sebuah benda penting yang hilang. Roti tawar kami hilang. Tiap orang diinterogasi dan hasilnya nihil. Tidak ada yang membawa roti tawar.

Sedikit perdebatan muncul, ada di mana roti tersebut. Mengapa tidak ada yang membawa roti tersebut? Siapa yang berada paling dekat dengan roti tersebut di mobil?

Rencana indah untuk sarapan roti keju susu coklat akhirnya buyar. Penuh kecewa, aku sarapan keju sambil membayangkan roti tawar. Seorang teman berkata, “Aku ngimpi tentang roti.”

Kami turun sambil sesekali membahas roti tawar tersebut. Di bagian mobil sebelah mana roti tersebut berada. 1 orang packing di kursi sopir, 1 orang packing di sebelah sopir, 2 orang packing di daerah bagasi, dan aku parkir di kursi tengah. Siapa yang paling dekat dengan roti tersebut?

Sesampainya kami di mobil, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek keberadaan roti.

Bagian depan gak ada.

Bagian tengah gak ada.

Bagian belakang juga gak ada.

Roti itu lenyap.

Aku menyerah dan berpikir mungkin saja roti tersebut ada yang meletakkan di luar dan diambil orang.

Salah seorang teman yang teliti dan kurang kerjaan akhirnya melihat struk pembelian supermarket. Dia tidak menemukan adanya pembelian roti.

Roti sudah kami ambil dari rak.

Roti sudah masuk ke keranjang.

Roti sudah diberikan ke kasir.

Lalu roti lenyap.

Pantas gak ada yang bawa roti, lha emang gak beli.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Obrolan Naik Gunung

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Salah satu hal yang dicari orang dari naik gunung adalah mengobrol bersama teman. Hal ini katanya bisa memupuk pertemanan menjadi lebih akrab. Aku penasaran, jadi aku mencatat hampir semua obrolan yang aku dengar saat naik gunung bersama 4 orang teman. Untuk waktu perjalanan 3 jam, obrolan kami ternyata tidak terlalu banyak. Berikut adalah obrolan dan celotehan yang diucapkan.

(Melihat teman menggunakan sepatu sandal)
Maneh gak bawa sepatu?
Gak muat

(Lewat di tempat yang banyak pupuk)
Uh bau
Uh

(Melihat teman yang sudah terengah-engah)
Capek Mas?

(Bertanya ke teman yang paling belakang)
Kok kamu di belakang sih?
Kan sweeper

(Cukup sering ditanyakan)
Udah berapa?
1.2km

(Ketika sudah mulai capek)
Duh lututku keras

(Tiba-tiba ingat hal penting)
Tenda 22 nya dibawa kan ya?
1 di aku, 1 lagi di siapa?
Aku

(Cukup sering juga ditanyakan)
Ada berapa pos sih?
3

(Liat tulisan arah ke puncak)
Wah puncak
Bogor dong

(Ketika lihat temennya sudah mulai lelah)
Mau gantian tas gak?
Nanti aja klo udah gak kuat
Sekarang aja mumpung masih kuat
Nanti klo butuh bantuan bilang kok

(Ketika sudah lelah)
Ini kayak gini terus ampe atas?
Enggak, nanti ada turunan
Wah, ada turunan ada tanjakan lagi dong

(Trekpol keinjek)
Eh sorry

(Ingin memberi semangat)
Eh cuy, udah kelihatan nih towernya
Dari bawah jg udah kelihatan

(Ketika sudah mulai capek dan tidak merasa sehat)
Kualat nih gw ngeledekin ****
Karena aku gak bawa kerir sih, klo bawa ya sama

(Diucapkan setiap interval waktu)
Istirahat dulu 5 menit

(Saat istirahat, ada beberapa pilihan kata)
Ada yang haus?
Air dong
Ada yang mau (snack)?
Bagi dong

(Bergantung kondisi)
Licin
Hati-hati

(Jalan bercabang)
Kanan atau kiri?
Kanan

(Capek dan mulai bernapas lewat mulut)
Wah berasap

(Membahas masalah perut)
Iya, tadi udah boker di bawah. Airnya dingin banget

(Ada yang habis beli jaket)
Berapaan?
280
Bukan 300?
Itu tadi yang besar
Makanya badan jangan besar2
Gak kapok ngatain gw?
Hahaha

(Setelah berjalan cukup lama dari pos sebelumnya)
Mana ini pos 2, jauh amat
Kayaknya udah lewat deh, ini bukit akar cinta
(Sambil nunjuk banyak akar)
Wah, kelewatan dong.
Apa balik dulu nih, biar bs foto di pos 2?

(Makanan ringan yang terbatas)
Pengen makan top nih
Makan aja
Nanti aja, 1 buat pos 2, 1 buat pos 3

(Muter lagu)
Sssst, coba deh dengerin suara alam
(Matiin lagu, dan hening, suara alam. Setelah beberapa saat menikmati keheningan)
Ok nyalain lagi
(Aku mulai nyanyi)
Bukan, HP aja

(Keniscayaan)
Gua kentut, bau
Gue juga

(Snack yang mulai terbatas)
Chacha abis yak?
Ada 1 lagi, di dalam tas

(Supaya lebih adil)
Kok kamu gak capek sih?
Capek kok, hooh hooh hooh

(Setelah sempat gerimis dan sudah cerah)
Gak panas tuh pake jas hujan terus?
Males nyopotnya

(Percakapan tentang pekerjaan)
Lagi di sini trus ditelpon ama **** (operasional), ada issue
Atau nelpon doang, tapi sebenarnya gak ada apa
Hahaha

(Salah satu hal yang paling dicari dari naik gunung)
Foto-foto bagus nih
Duh kameraku di dalem tas
Kameraku tele, gak bisa sedeket itu

(Ketika temanmu ketinggalan)
**** mana?
Lagi selfie

(Sampai di tempat berkemah)
Camp di mana nih?
Di sini aja
Kurang rata nih
Ya geser dikit aja

Masih banyak obrolan seperti senter, snack, capek, dan cuaca. Susah memang membawa barang berat sambil mengobrol hal yang berat. Biasanya obrolan agak berat ketika istirahat atau sudah berkemah.  Memang mayoritas percakapan sepanjang berjalan tidak terlalu berkesan, tapi yang biasanya diingat adalah suasana, tingkah laku, dan percakapan yang unik.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter