Donor Darah 13

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Pertengahan November 2018 kemarin aku donor darah ke-13. Sedikit lagi menuju check point berikutnya, 25 kali. Seperti biasa aku donor darah di PMI Pusat Jakarta, di daerah Kramat, dekat halte Pal Putih. Pendonor cukup banyak namun antrian tidak terlalu panjang.

Ada 2 hal berbeda yang aku dapatkan dari donor darah kali ini.

Yang pertama adalah perbedaan cara mengambil contoh darah. Biasanya saat donor, setelah kantong darah telah terisi, petugas akan menggunting selang dan membiarkan darah mengalir ke 3 botol kecil. Pemandangan yang cukup seram sebenarnya.

Metode lama, digunting dulu

Saat ini proses itu sudah tidak dilakukan karena ada perubahan konfigurasi dari selang yang tersambung ke tubuh kita. Biasanya hanya ada 1 selang menuju kantong darah dan ketika darah penuh, maka selang digunting untuk mengisi botol kecil. Pada selang yang baru terdapat percabangan selang, untuk kantong darah dan untuk kantong darah kecil. Kantong darah kecil itu nantinya akan bisa langsung disambungkan dengan botol kecil, lalu kantong darah diremas sehingga darah mengalir ke botol. Tidak perlu proses gunting menggunting lagi.

Metode baru, selang bercabang

Masih ada kendala untuk tampilan video, jadi harus diunduh dulu.

Kejutan berikutnya adalah makanan yang kudapatkan setelah donor. Setelah 2 tahun berubah, akhirnya makanan kembali lagi seperti dulu. Indomie rebus dan telur rebus  yang dimasak oleh petugas. Sebuah peningkatan dibandingkan sebelumnya, pop mie. Akhirnya jatah indomieku bertambah.

Istimewa

Donor darah terakhirku di tahun 2018. Sudah 5 kali donor darah di tahun ini, sesuai dengan rencana. Semoga 5 kantong darahku bisa berguna untuk random stranger.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Blister vs Facial

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

TLDR : Blister lebih sakit daripada facial

BLISTER

Sepanjang menekuni hobi berlari, kukira aku cukup toleran dengan rasa sakit. Aku pernah menyelesaikan event dengan sakit plantar, sakit engkel, sakit lutut, bahkan pernah menempuh 25 km berjalan kaki dengan ITB. Pandangan itu berubah ketika pada Nusantarun Chapter 6 kemarin aku mendapatkan blister.

Aku mendapatkan blister di kedua kaki, di sekitar bola kaki, pada kilometer 50. Kedua blister itu berada pada tumpuan kaki, sehingga setiap langkahku akan membuat blister-blister itu menahan berat tubuhku. Skala sakitnya sebenarnya masih bisa ditoleransi, mungkin skala 3. Cuma rasa sakit itu berulang setiap langkah yang kuambil.

Dari pertama blister itu muncul sampai ke Check Point berikutnya sekitar 12 km. Dua belas kilo penuh penderitaan setiap langkahnya. Setengah jalan, aku sudah berpikir untuk DNF dan meminta dievakuasi, atau bahkan naik kendaraan umum. Dengan determinasi dan semangat ingin menyelesaikan lomba, akhirnya aku berhasil menempuh 12km dalam 3jam.

Penyiksaan panjang akhirnya berhasil ketika aku sampai di CP dan ada medik yang merawat blisterku. Pengalamanku sebelumnya, pelari lain biasanya bisa kembali berjalan atau bahkan berlari ketika blister mereka sudah dirawat. Ekspektasiku cukup tinggi untuk bisa langsung berlari lagi.

Sambil menunggu, aku bertanya kepada salah satu senior lari.

Aku : Kok bisa sih mereka lari padahal blisteran?
Senior : Jangan dirasain, itu cuma mindset.
Aku : Oh, cuma mindset ya.

Blister sudah dirawat oleh dokter, tambahan wejangan dari senior, serta jarak ke CP berikutnya yang “hanya” 11 km membuatku cukup yakin untuk melanjutkan perjalanan. Oooooh maaaaaan, bayangin aja sakit setiap melangkah. Sebelas kilometer itu kisaran 22 ribu langkah. Bayangkan kamu ada 2 luka dan tiap luka diberi tekanan sebanyak 11 ribu kali. Aku masih gak tahu bagaimana orang-orang lain bisa menahan sakit seperti ini. Aku cukup yakin ini bukan mindset. Sakitnya gak seberapa kalau sekali, tapi diulang-ulang-ulang-ulang-ulang sampai membuatku putus asa.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan event di CP tersebut, bukan di garis finish. Sebuah pengalaman sakit yang tidak ingin aku ulang. Kapok.

FACIAL

Rasa kapok karena sakit pernah kurasakan beberapa tahun sebelumnya. Aku pernah menemani kakakku untuk facial wajah. Dulu jerawatku cukup banyak, jadi ketika facial sakitnya cukup memberikan kesan mendalam. Itu pertama kali dan terakhir aku melakukan facial.

Sampai tiba-tiba kemarin aku penasaran. Mana yang lebih bikin aku kapok ya, blister yang dipaksa jalan atau facial. Aku punya waktu luang dan rasa ingin tahu menguasaiku. Karena terakhir facial sudah lebih dari 5 tahun yang lalu, aku sudah lupa rasanya. Aku memutuskan untuk pergi facial dan membandingkan rasa sakitnya.

Facial yang kemarin entah mengapa tidak sesakit yang dahulu. Mungkin karena perbedaan tempat, perbedaan metode, perbedaan kondisi wajahku (dulu jerawatan parah sekarang normal), atau perbedaan mbak-mbak. Facial yang aku rasakan kemarin juga cuma sakit biasa (skala 3) dan sesekali agak sakit (skala 4). Itu juga cuma sebentar, tidak terlalu lama.

Dengan rasa sakit seperti itu, aku tidak terlalu kapok untuk facial lagi. Jumlah sakitnya juga masih kisaran puluhan, maksimal ratusan. Sakitnya masih bisa ditahan dan ada manfaatnya.

Kesimpulan

Rasa sakit karena blister dan untuk jalan 11 km lebih tidak bisa ditahan daripada rasa sakit karena 1 sesi facial.

NB : Mungkin sakit karena blister itu mindset, mentalku sudah hancur ketika blister muncul di kedua kaki dan itu mungkin membuatku merasa sakitnya lebih daripada yang seharusnya.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Aku dan Ragnarok

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Ragnarok, sebuah game MMORPG yang cukup terkenal saat aku masih SMP. Sering lihat orang main, tapi dengan adanya voucher dan perlu jam main yang banyak membuatku urung memainkannya. Aku lebih sering menghabiskan uang jajanku untuk game yang bisa dimainkan sekali tamat, seperti CS atau WE. Aku tidak tahu apa serunya Ragnarok atau bagaimana cara mainnya.

Ragnarok sempat kembali marak ketika aku kuliah. Beberapa teman memainkan game ini. Aku yang sudah punya laptop dan punya akses internet masih setia dengan game yang lebih seru, Freecell, Solitaire, Hearts, dan Minesweeper.

Aku cuma punya satu memori bermain Ragnarok. Aku sedang menginap di rumah teman kuliahku, sebut saja Gogo. Gogo sibuk bermain Ragnarok dan aku sibuk melakukan hal lain. Aku sempat memperhatikan dia bermain dan biasanya game itu makin seru kalau ada teman mainnya. Ketika dia akan tidur, aku menawarkan diri untuk membantu dia grinding. Mencoba main gamenya sekalian membantu teman levelling, kalau seru nanti bisa ikutan main.

Gogo memberi tahu cara main, hanya untuk jalan, attack, dan heal. Cukup lah. Dia pun pergi tidur dan aku pergi berburu Poporing.

Cukup lama aku berburu Poporing, muncul karakter lain di sebelahku dan dia mengajak ngobrol. Training dari Gogo belum mencakup cara chat, jadi ya aku hanya bisa diam.

Karakter itu mengajak ngobrol lagi. Aku lempeng berburu Poporing. Dia mencoba beberapa kali untuk mengajakku mengobrol, tapi tetap tidak kubalas karena memang tidak tahu caranya. Tiba-tiba, karakterku berpindah ke sebuah ruangan seperti penjara. Tanpa ada tempat untuk keluar. Sial!

Karena tidak tahu apa yang terjadi dan Gogo sudah tepar, aku phone a friend. Kebetulan ada satu orang teman lagi yang ikut bermain, sebut saja Rhesa. Setelah menceritakan kronologi ke Rhesa (dengan sedikit panik), lalu aku menyerahkan masalah ini ke dia dan pergi tidur. Maklum, training masih kurang.

Siang harinya, ketika terbangun aku bertanya pada Gogo terkait masalah di Ragnarok. Poin yang aku dapatkan dari penjelasan dia :

  • Karakter yang aku temui adalah admin
  • Admin mengajakku mengobrol
  • Aku diam karena tidak tahu cara chat
  • Admin masih mencoba mengajakku mengobrol
  • Masih kucuekin karena emang gak tahu caranya
  • Admin nge-ban aku karena dikira bot

Pertama kalinya sepanjang hidupku (sampai saat ini) aku dikira bot. Hasil mediasi dengan admin pun tidak menghasilkan hasil positif, akun Ragnarok Gogo tetap di-ban.

Sekalinya main Ragnarok, langsung dicurigai sebagai bot dan langsung di-ban. Dan langsung pensiun.

Botting

NB : Info dari Gogo, bahkan bot biasanya tidak secupu itu
NB2 : Empunya akun tidak dendam, mungkin sepadan dengan hak untuk ngata-ngatain

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Cara Perawatan/Pencucian Batik

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Dua tahun yang lalu aku diberi batik terbungkus plastik. Ada secarik kertas di dalam bungkusan tersebut. Secarik kertas berisi tata cara perawatan dan pencucian batik.

Tata cara merawat dan mencuci batik

Yup, sampai kosan, buka lemari, taruh batik di bagian paling bawah tumpukan pakaian. Perawatan yang terlalu susah membuatku memilih untuk menggunakan batik yang lain saja. Disimpan biar awet.

Tulisan di kertas tersebut cukup mengganggu karena huruf kapital hampir di setiap kata, penggunaan imbuhan di- yang tidak tepat, dan seterika.

Cara perawatan / pencucian batik :

  1. Gunakan sedikit saja sabun cuci
  2. Proses perendaman maksimum 10 menit
  3. Cukup dikucek dengan lembut
  4. Tidak boleh menggunakan sikat
  5. Jangan dijemur langsung di bawah sinar matahari
  6. Cukup setrika bagian dalam batik

NB : Akhirnya dipakai juga pas hari batik nasional 2018 karena batik yang lain sudah identik dengan kondangan

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Rata-rata Kaya

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

27 Oktober 2018 adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, aku berada di ruangan dengan orang-orang yang secara rata-rata memiliki kekayaan di atas 1 triliun rupiah. Ini merupakan angka tertinggi  yang pernah kuraih.

Ada 100 orang dalam ruangan itu, sebagian besar tidak kukenal. Aku di situ hanya duduk, bermain kartu, dan sesekali mengobrol untuk mengisi waktu.

Perhitungan yang aku lakukan adalah menjumlahkan harta kekayaan setiap orang dan membaginya dengan jumlah orang yang hadir. Hasilnya di atas 1 triliun rupiah, hampir menyamai Prabowo. Ada 100 orang dengan total kekayaan lebih dari 152 triliun rupiah.

Fakta bahwa Bambang Hartono ada di dalam ruangan cukup membantu menaikkan rata-rata sih.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

World Book Challenge

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Inspired by Geography Now, a must subscribe youtube channel, I challenge myself to read books from all countries in the world. I read more than 30 books a year, mostly comes from Indonesia, UK, and USA. I’ll try to sneak 5 books a year from other countries so that I can finish this challenge. There are 193 sovereign states registered as members of United Nations. If i’m lucky, i can finish this challenge by the next 3 decades.

Due to language limitation, i can only read translated version of some books. Ten out of 193, still a long way to go. I’m open to sugestions.

Here is the list of countries and a sample book that I’ve read until today.

  • Afghanistan
  • Albania
  • Algeria
  • Andorra
  • Angola
  • Antigua and Barbuda
  • Argentina
  • Armenia
  • Australia
  • Austria
  • Azerbaijan
  • Bahamas
  • Bahrain
  • Bangladesh
  • Barbados
  • Belarus
  • Belgium
  • Belize
  • Benin
  • Bhutan
  • Plurinational State of Bolivia
  • Bosnia and Herzegovina
  • Botswana
  • Brazil
  • Brunei Darussalam
  • Bulgaria
  • Burkina Faso
  • Burundi
  • Cabo Verde
  • Cambodia : First They Killed My Father: A Daughter  of Cambodia Remembers by Loung Ung
  • Cameroon
  • Canada
  • Central African Republic
  • Chad
  • Chile
  • China
  • Colombia
  • Comoros
  • Congo
  • Costa Rica
  • Côte d’Ivoire
  • Croatia
  • Cuba
  • Cyprus
  • Czech Republic : Metamorphosis by Franz Kafka
  • Democratic People’s Republic of Korea
  • Democratic Republic of the Congo
  • Denmark
  • Djibouti
  • Dominica
  • Dominican Republic
  • Ecuador
  • Egypt
  • El Salvador
  • Equatorial Guinea
  • Eritrea
  • Estonia
  • Eswatini
  • Ethiopia
  • Fiji
  • Finland
  • France : Le Petit Prince by Antoine de Saint-Exupery
  • Gabon
  • Republic of The Gambia
  • Georgia
  • Germany
  • Ghana
  • Greece
  • Grenada
  • Guatemala
  • Guinea
  • Guinea-Bissau
  • Guyana
  • Haiti
  • Honduras
  • Hungary
  • Iceland
  • India
  • Indonesia : Lelaki Harimau by Eka Kurniawan
  • Islamic Republic of Iran
  • Iraq
  • Ireland
  • Israel
  • Italy : Pinocchio by Carlo Collodi
  • Jamaica
  • Japan : Totto-chan: The Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi
  • Jordan
  • Kazakhstan
  • Kenya
  • Kiribati
  • Kuwait
  • Kyrgyzstan
  • Lao People’s Democratic Republic
  • Latvia
  • Lebanon
  • Lesotho
  • Liberia
  • Libya
  • Liechtenstein
  • Lithuania
  • Luxembourg
  • Madagascar
  • Malawi
  • Malaysia : Anak Mat Lela Gila by Ishak Haji Muhammad
  • Maldives
  • Mali
  • Malta
  • Marshall Islands
  • Mauritania
  • Mauritius
  • Mexico
  • Federated States of Micronesia
  • Monaco
  • Mongolia
  • Montenegro
  • Morocco
  • Mozambique
  • Myanmar
  • Namibia
  • Nauru
  • Nepal
  • Netherlands : Max Havelaar by Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
  • New Zealand
  • Nicaragua
  • Niger
  • Nigeria
  • Norway
  • Oman
  • Pakistan
  • Palau
  • Panama
  • Papua New Guinea
  • Paraguay
  • Peru
  • Philippines
  • Poland
  • Portugal
  • Qatar
  • Republic of Korea
  • Republic of Moldova
  • Romania
  • Russian Federation
  • Rwanda
  • Saint Kitts and Nevis
  • Saint Lucia
  • Saint Vincent and the Grenadines
  • Samoa
  • San Marino
  • São Tomé and Príncipe
  • Saudi Arabia
  • Senegal
  • Serbia
  • Seychelles
  • Sierra Leone
  • Singapore
  • Slovakia
  • Slovenia
  • Solomon Islands
  • Somalia
  • South Africa
  • South Sudan
  • Spain
  • Sri Lanka
  • Sudan
  • Suriname
  • Sweden
  • Switzerland
  • Syrian Arab Republic
  • Tajikistan
  • Thailand
  • The former Yugoslav Republic of Macedonia
  • Timor-Leste
  • Togo
  • Tonga
  • Trinidad and Tobago
  • Tunisia
  • Turkey
  • Turkmenistan
  • Tuvalu
  • Uganda
  • Ukraine
  • United Arab Emirates
  • United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland : And Then There Were None by Agatha Christie
  • United Republic of Tanzania
  • United States of America : To Kill a Mockingbird by Harper Lee
  • Uruguay : Miracle in the Andes by Nando Parrado and Vince Rause
  • Uzbekistan
  • Vanuatu
  • Bolivarian Republic of Venezuela
  • Vietnam
  • Yemen
  • Zambia
  • Zimbabwe

 

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Pendakian Gunung Andong Via Dusun Sawit

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Mode : Trekking
Waktu naik : 1 jam 15 menit
Waktu puncak 1 – puncak 2 : 6 menit
Waktu turun : 43 menit
Penambahan elevasi : 540 meter
Tempat berkemah : Puncak
Anggota : 2 orang
TLDR : Cocok bagi yang ingin merasakan naik gunung tapi gak mau nginep. Cocok juga untuk yang pengen nyoba berkemah tapi gak terlalu capek. Rute tidak terlalu terjal, tempat berkemah cukup luas, waktu tempuh singkat, dan pemandangan indah.

Bila penerbangan dari Jakarta ke Jogja jam 05.00, kondangan di Magelang jam 11.00, penerbangan kembali jam 21.00, apa yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang? Naik Gunung Andong.

Gunung Andong (1,726 mdpl) terletak di Magelang. Tinggal mencari basecamp di maps, naik kendaraan sekitar 1 jam ke sana, mendaftar, langsung bisa trekking, lalu 3 jam perjalanan ke Jogja.

Elevasi basecamp 1278 mdpl

Jalur pendakian Gunung Andong via Dusun Sawit sebenarnya tidak cukup panjang jalurnya, hanya 5.4 kilometer bolak balik tapi cukup terjal di beberapa tempat.  Ada 3 pos dan 3 puncak di jalur ini. Pos 1 Kemuning, pos 2 Dewandaru, pos 3 Watu Wayang, Puncak Makam, Puncak Jiwa, dan Puncak Alap-alap.

Peta Pendakian Gunung Andong via Dusun Sawit

Jalur pendakian Gunung Andong via Dusun Sawit cukup ramai dengan rombongan anak pramuka. Ada juga orang yang mendaki sambil membawa gitar menunjukkan jalur yang bersahabat, atau orangnya memang kuat. Jalur yang terjal membuat trekking cukup cepat bila tidak membawa barang-barang yang berat.

Dari Ke Waktu Jarak Penambahan Elevasi
Basecamp Dusun Sawit Pos 1 16 menit 800 meter 95 meter
Pos 1 Pos 2 10 menit 300 meter 70 meter
Pos 2 Puncak Jiwa 39 menit 1300 meter 265 meter
Puncak Jiwa Puncak Alap-alap 6 menit 300 meter 30 meter
Puncak Alap-alap Puncak Jiwa 6 menit 300 meter 45 meter
Puncak Jiwa Pos 2 24 menit 1300 meter 20 meter
Pos 2 Pos 1 5 menit 300 meter 0 meter
Pos 1 Basecamp Dusun Sawit 14 menit 800 meter 15 meter
Total 120 menit 5.4 km 540 meter

 

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita – Komunitas #1Minggu1Cerita

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Judul Buku : Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita
Pengarang : Komunitas #1Minggu1Cerita
Jumlah Halaman : 265
**

Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita

Buku Antara Cinta, Budaya, dan Generasi kita merupakan antologi cerita pendek dari komunitas #1Minggu1Cerita. Sebuah komunitas tempat salah seorang teman saya bernaung. Ada 22 cerita pendek dalam buku ini mencakup cinta, budaya, masa kini, dan juga kisah masa lalu.

Ada 22 penulis sehingga ada 22 tulisan dengan gaya yang berbeda-beda. Ada yang pemilihan katanya enak dinikmati, ada yang ringan, ada yang bergaya teenlit, ada yang lucu. Ragam budaya penulis juga membuat ada beberapa cerita yang diselipi bahasa lokal sehingga perlu catatan kaki.

Bila harus memilih, berikut ini adalah cerita yang paling aku suka.

  1. Gasiang oleh Dharma Poetra
  2. Bisikan Rindu oleh Merisa Putri
  3. Kala Hujan oleh Reytia Anindita
  4. Konde oleh Ismail Sunni
  5. Sepasang Mata Bola yang Menari oleh Peppy Febriandini
Konde oleh Ismail Sunni

Konde bercerita tentang Arya, pemuda mendekati kepala tiga, pernah kuliah di teknik elektro, berkecukupan, bekerja sepagai programmer dan belum punya pasangan. Untung dia tidak lulus kuliah, jadi ada sedikit pembeda dengan teman penulis. Konflik terkait perjodohan jadi kocak diceritakan. Cerita Arya mungkin bisa disimpulkan dalam kalimat “desperate times call for desperate measures”.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter