Donasi untuk Wikipedia

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Sebagai salah satu pengguna setia Wikipedia, aku pengen sekali saja ikut berdonasi membantu Wikipedia. Wikipedia hidup dari donasi orang-orang dengan minimal donasi USD 3. Aku yakin pernah membuka lebih dari 5.000 laman Wikipedia, kalau nyumbang IDR 50.000 ya 1 laman 10 rupiah lah.

Setelah membuka laman donasinya di sini, aku mencari cara yang bisa kulakukan untuk donasi.

Pilihan cara donasi

Hanya ada 3 cara yang mungkin bisa kupilih: tombol merah DONATE NOW, credit/debit card, dan bank transfer.

Metode transfer hanya bisa digunakan untuk USD, EUR, dan GBP. Tidak ada pilihan IDR.

Metode credit/debit card pun kucoba. Ketika memilih negara, aku tidak menemukan pilihan Indonesia.

Antara Brunei dan East Timor

Metode terakhir yang kucoba adalah tombol DONATE NOW. Jeng jeng jeng jeng.

Bagi teman-teman yang iseng ingin membantu siswa dan mahasiswa di luar sana mengerjakan tugas kuliahnya, mari berdonasi ke Wikipedia.

https://donate.wikimedia.org/wiki/Ways_to_Give
Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Review Perjanjian dengan Iblis

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Hari ini aku mendapat tiket dari seorang teman untuk menghadiri Gala Premiere film Perjanjian dengan Iblis. Acara ini dihadiri sutradara, produser, pemain, segenap tamu undangan, dan saya.

Film ini bercerita tentang satu keluarga kecil, bapak (Bara), anak (Rara), dan ibu tiri(Nisa), yang sedang berlibur ke Pulau Bengalor. Mereka disambut oleh penjaga vila, Rengganis. Karakter lain yang cukup penting selain setan dan NPC adalah Salim dan Tumang.

Keluarga itu bermalam di vila dan pada saat malam harinya Rara dan Nisa diganggu oleh mimpi buruk dan setan. Konflik lainnya adalah Rara dan Nisa belum akur. RAra masih belum menerima Nisa sebagai pengganti ibu kandungnya. Film ini merupakan campuran film horor dan film keluarga.

Filmnya menurutku tidak terlalu seram. Menurut hitunganku, hanya sekitar 7 adegan yang benar-benar seram dan hanya 2 yang membuatku hampir teriak, itu juga karena jump scare. Adegan seramnya mengedepankan musik seram, nafas terengah-engah pemain, slow motion menoleh, slow motion setan menggapai, dan tentu saja muka setan full screen.

Dari awal aku sudah bisa menebak plot utamanya, meskipun aku cukup terkejut dengan plot sampingannya. Agak plot twist. Dari adegan terakhir dan kalender di film (1991 kalo gak salah), aku berspekulasi bahwa adegan tersebut adalah justifikasi untuk pembuatan sequel film ini. Yah, kalau boleh menilai, film ini sedikit lebih seram dari Womb Ghost. Dikit aja.

Ada satu adegan di kamar tidur yang membuatku berpikir. Di pinggir tempat tidur Rara ada sandal yang menghadap ke arah kasur. Aku agak susah membayangkan skenarionya. Skenario untuk menjelaskan sandal itu adalah Rara menghadap kasur, lalu naik ke kasur sambil mencopot sandal. Skenario yang lebih mungkin adalah Rara duduk dulu di kasur, baru mencopot sandal. Namun hal ini akan membuat sandal membelakangi kasur. Ya, memang kadang pikiranku suka gak jelas.

Spoiler Alert

Seperti yang sudah diduga, Rengganis adalah tokoh jahatnya dan Salim hanya ingin membantu. Plot twist yang kumaksud adalah ternyata Bara menumbalkan Nisa dan Rara. Kukira dia bapak dan suami yang baik, ternyata dia lebih sayang bisnisnya. Petunjuk bahwa dia juga tokoh jahat bisa didapat dari fakta bahwa dia tidak diganggu oleh setan sementara Nisa dan Rara diganggu.

Aku masih bingung, bagaimana Nisa setelah pingsan di rumah Rengganis bisa bersama Salim. Aku juga mempertanyakan cara Salim memperingatkan mereka, agak kurang efektif caranya. Aku juga mempertanyakan bagaimana Bara akan menjelaskan pada polisi kok bisa istri dan anaknya menghilang tiba-tiba.

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Sunday Morning Training Run bersama Indo Runners

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

If you want to run fast, run alone

If you want to run far, run together

If you want to run fast and far, run with a pacer

Me

Aku ingin melakukan hal yang berbeda untuk memulai tahun 2019. Aku ingin lari bareng Indo Runners di Sunday Morning Training Run (SMTR). SMTR, sesuai namanya, diadakan pada hari Minggu jam 05.45 dengan tempat berkumpul di depan Equity Tower. Ada tempat penitipan barang juga lho. Untuk jadwal mingguannya, bisa langsung cek di instagram irruniversity.

Aku bangun pagi dan langsung cabut ke Equity tower. 05.45 sudah ada beberapa pelari yang berkumpul. Acara dimulai sekitar pukul 06.00 dengan pemanasan 10 menitan dan dilanjutkan foto bersama.

Setelah pemanasan, ada pembagian kelompok pelari sesuai pacernya. Menu hari ini adalah 10k dengan 5 pace yang disediakan : 6, 6.30, 7, 7.30, dan 8. Ada 2 pacer untuk setiap kategori pace. Aku memilih pace 6.30, pace yang menurutku terlalu cepat. Dipikiranku, “Ah, nanti kan bisa turun pace ganti kelompok sebelah kalo capek”.

Lari dimulai jam 6.15 diawali oleh kelompok pace 8, dilanjutkan kelompok pace 7.30, dan seterusnya sampai kelompok pace 6 menjadi kelompok terakhir yang meninggalkan tempat start. Kami berlari membentuk 2 lajur di jalur CFD.

Kakimu mulai lelah ketika sudah mencapai kilometer ke-2. Tiba-tiba pacer memberi tahu bahwa ada WS (water station) di depan. 3 WS di kilometer 3, 6, dan 8.5 membuatku bisa beristirahat 10-15 detik untuk mengatur nafas dan melemaskan kaki. Agak kaget juga ternyata aku bisa lari 10k dengan pace 6.30. Di sepanjang jalan sebenarnya ingin berhenti, tapi yang lain masih lanjut lari jadi agak segan. Memang kalau mau lari jauh dan cepat itu sangat membantu kalau bareng pacar pacer.

Abu-abu ciri anak HME
Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Tisu

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Toilet adalah tempat penuh inspirasi, salah satunya untuk bahan tulisan blog. Bingung mau nulis apa, liat tulisan tidak baku pun bisa jadi bahan.

Menurut KBBI, tissu itu tidak baku. Bentuk bakunya adalah tisu.

Ada yang bisa menebak toilet di mana ini?

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Sambal Pecel Resep Keluarga

Mudik kali ini aku mendapatkan salah satu resep turun temurun keluarga. Resep pembuatan sambal pecel yang bisa digado. Sambal pecel resep keluarga (SPRK) yang perlu dipelajari dan dicatat agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

Berdasarkan testimoni dari beberapa anggota keluargaku, sambal pecel ini merupakan sambal pecel paling enak. Rasanya mengalahkan sambal pecel di luar sana. Keunggulan SPRK adalah lebih enak, sedikit pedas, dan bisa digado. Penulis telah membuktikan sendiri, secara tidak sadar menggado sambal pecel yang belum dicampur air.

Bahan :

  • Kacang 2 kg
  • Gula jawa 1 kg
  • Lombok besar 1 genggaman nenekku
  • Lombok kecil 1 genggaman adik sepupuku
  • Asem 2 bungkus dari toko sebelah
  • Bawang putih 1 genggaman nenekku
  • Bawang merah goreng sedoyannya
  • Daun jeruk purut sesuai selera
  • Garam secukupnya

Bahan-bahan di atas ditumbuk dengan alu dan lumpang pusaka keluargaku.

Mudik kali ini aku akan membawa sambal pecel ini. Bagi yang ingin mencicipi, bisa japri saja biar tidak kehabisan.

Wayang Orang Sriwedari

Bingung mau ngapain di Solo? Mending nonton wayang orang Sriwedari. Mulai jam 20.15 sampai selesai dengan harga tiket antara 5 ribu sampai 10 ribu saja. Pentas sudah ada jadwal dan judulnya.

Setelah memilih judul, akhirnya aku dan saudara-saudara memutuskan untuk menonton Petruk Dadi Ratu. Tiket VIP sudah habis, jadi kami membeli tiket kelas I. Pementasan dilakukan dalam bahasa Jawa, beberapa dialog dalam krama inggil. Untuk yang hanya bisa bahasa Jawa ngoko seperti aku akan kesulitan mengikuti jalannya cerita. Untungnya ada layar yang menceritakan garis besar adegan yang sedang terjadi.

Dari baris tengah, suara gamelan jelas terdengar, penyanyi juga, namun suara pemain kadang kurang jelas. Kadang suara dari penonton lain lebih keras dari suara pemain.

Selain mendapatkan cerita, aku juga mendapatkan beberapa lelucon receh. Hiburan rakyat. Menghibur, murah, namun berkualitas.

River Tubing Pusur Adventure

Jarak : 1.2 kilometer
Waktu :  1 jam
Biaya : 50 ribu per orang kalau hanya snack, kalau dengan makan 70 ribu per orang
Perlengkapan : helm, vest, ban. Cukup memadai
Kondisi sungai : berbatu dengan beberapa tempat arusnya kencang
Simpulan : 8/10

Bangun sedikit siang, dapat tawaran untuk tubing di deket Sukoharjo. Udah Whatsapp CP dan pesan jam 11 untuk 7 orang. Cuaca mendukung, mendung, gak panas gak hujan. Kelompok kami digabungkan dengan 3 kelompok lain dengan total orang sekitar 30an.

Tubingnya sendiri cukup seru, tapi sering nyangkut di batu. Sepanjang perjalanan, ada belasan petugas yang membantu dan mengawasi. Ada 1 tempat yang tidak bisa dilalui lewat jalur air karena terlalu berbahaya, jadi turun ban dulu, jalan dikit, lanjut rebahan lagi.

Ada tantangan menarik dari penyelenggara, kalau 50% orang bisa perosotan (5 meter) dan gak terbalik, gak usah bayar. Dari belasan orang yang mencoba, tidak ada yang berhasil termasuk pemandunya. Tantangan yang kemungkinan menangnya kecil.

Digitalisasi Novel Indonesia

Aku termasuk orang yang gemar membaca. Salah satu keinginanku adalah membaca buku-buku karya penulis Indonesia atau yang memengaruhi sejarah Indonesia. Buku-buku yang dulu sempat muncul di soal pelajaran bahasa Indonesia juga menarik untuk dibaca.

Sudah ada beberapa buku yang aku baca, seperti Sitti Nurbaya, Robohnya Surau Kami, dan Max Havelaar. Buku-buku tersebut cukup memberikan pandangan baru terkait sosial politik pada tahun pembuatan. Aku ingin lebih banyak menikmati buku-buku seperti itu, tapi agak susah mencarinya.

Aku lebih suka buku fisik, tapi kadang versi digital lebih mudah dibawa. Sudah ada usaha pemerintah untuk digitalisasi buku, seperti aplikasi iJakarta. Untuk versi digital, aku lebih sering membaca melalui Google Play Books. Sayangnya belum semua buku bisa kutemukan di Play Store.

Digitalisasi cukup penting untuk menjangkau pembaca muda (dan tua). Hal tersebut juga berguna untuk mengabadikan karya. Pembaca juga lebih mudah mendapatkan karya untuk dibaca.

Setelah menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, aku ingin membaca bukunya. Aku menemukan bukunya di Play Store, tetapi aku urung membelinya. Sebuah buku Indonesia tapi disediakan oleh penerbit Malaysia. Gak papa sih, cuma masih belum ikhlas aja untuk beli.

Kalau sampai tahun depan tidak ada penerbit Indonesia yang menyediakan versi digital buku ini (dan buku-buku lain) di Play Books, aku mungkin akan membeli versi di atas. Aku menunggu.